4.09.2017

Graduation

Assalamu'alaikum....
Alhamdulillah bisa kembali lagi ngeblog walaupun kontennya lagi enggak bagus hari ini. Tapiiiii..... ingin meluapkan rasa kebahagiaan yg sebenernyaaa udah lama enggak di publish2 masih mangkrek di laptop. Jadiiiii, kali ini gue mau ngasih rasa bahagiaaa yg amat luarrr biasyaahhhh (enggak biasa diluar kok anaknya hahaha) yaitu tentang wisuda!
Yep! Beberapa bulan yg lalu tepatnya tanggal 22 November 2016 jam 10.00 dan berlokasi di BSI Convention Center, Kaliabang, Bekasi Utara, Alhamdulillahirabbil alamiinn dinyatakan lulus kuliah D3 atau Ahli Madya. ❤
Sebenernya sulit bangeettt buat bikin Tugas Akhir itu. Sampe 2 kali magang demi hasil dan nilainya baguuss dimata dosen penguji. Dan ternyataaaa bersyukur bangeettt masih dikasih waktu dan umur yg berkaahhh akhirnya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dan bikin orangtua senang sekaligus bangga.
3 tahun itu bukan waktu yg sebentar buat bikin Tugas Akhir itu. Pasti banyaakkk banget halilintar membahana nan cetarrrrr yg bikin sulit buat menyelesaikan itu semua. Mulai dari dosen akademik yg jarang banget ada dikampus dan standby sampe malem, dapet dosen pembimbing yg lagi hamil tua, daaannn dosen-dosen yg berhasiiilll bikin para mahasiswa/i nya semakin deg-degan menghadapi Ujian Tugas Akhir daaannn bikin Tugas Akhir juga tentunya.
Dan Alhamdulillahnya banget, dosen pembimbingnya itu mengerti kita semua. Nggak setiap hari mereka selalu ada dikampus dan minta tandatangan pun gak sampe terlalu mengejar-ngejar (bukan mengejar angkot ya). Gue dapet 2 dosen pembimbing sekaligus. Yang kedua itu Asisten Dosen Pembimbing karenaaaa dospem gue yg pertama itu sedang hamil tua dan anaknyaaa itu kembaarrr. Lucuk! *sekip*
Nah, mereka-mereka yg membuat gue menjadi semangat banget buat menyelesaikan Tugas Akhir dgn tepat waktu. Dapat nilai B itu udah memuaskan banget buat gue. Mereka adalah temen-temen sekelas gue yg selalu menyemangati satu sama lain biarrr kita diwisuda bareng dan punya foto bareng-bareng iuga meskipun hasilnya misah-misah fotonya. Tapiiii akhirnya Alhamdulillah bangeettt masih bisa wisuda bareng sm mereka semua. Terima kasih kalian yg luar biasyaaahhhh!
Ngerjain Tugas Akhir itu hampir sama kayak Skripsi, cuma bedanya TA lebih sedikit halamannya ketimbang Skripsi. Nah, perjuangan bikin TA ini yg akan mengantarkan kalian semua ke jenjang yg lebih serius lagi (bukan pernikahan ya). Tapiiiii mengantarkan kalian untun bikin Skripsi di kuliah selanjutnya.
Perjuangan bikin TA versi gue dan temen-temen lainnya itu sulit sih sebenernya. Berhubung dospem gue lagi hamil tua dan anaknya kembar, alhasil kita semua satu kelompok datengin rumah beliau di daerah Sawangan, Depok. Dengan berbekal sebuah tas berisi dokumen-dokumen TA hasil coretan tangan halusnya beliau, kita gak mungkin bisa wisuda bareng-bareng. Alhamdulillah. Meskipun ada asistennya, tapiii tugas sepenuhnya ada di dospem gue. Berhubung dia sedang cuti melahirkan, otomatis kita sering menemui asisten pembimbing. Hampirrr tiap sore nongkrong di depan loby kampus biar ketemu sama bu Wiwin. Berkat bantuan, dorongan dan doa dari mereka berdua, kita semua bisa ikutan sidang dan wisuda. Alhamdulillah.
I give many thanks to my family especially my parents who always being my inspiration and my spirit doing this Tugas Akhir. Thank you soo much! ❤
Akhir kata, terima kasih utk bu Nandang, bu Wiwin, mas Tommy yg selalu ngajarin buat bikin TA yg bagus dan rapi, serta teman dan kawan Manajemen Administrasi 22.6A.02 yg senantiasa membuat semangat dan inspirasi buat ikutan wisuda bareng. Lots of love y'all! 

Salam,
Your trully friends
Ajeng.

2.26.2016

Hijab is Trully Happiness!

Hallo! TGIF! Alhamdulillah it’s Friday. Jum’at berkah, kata orang-orang, sih. Tapi memang bener, kalo hari Jum’at itu adalah hari yang paling berkah. Percaya, gak? Enggak, ya? Yaudah. *lhoapaini*

Sebenarnya, bukan itu yg mau gue bahas. Tapi gue mau bahas soal hijab! Yes, we’re wearing hijab everyday. Because, from hijab we can found happiness, we found love, and we can share with other people who doesn’t wear hijab. Hijab itu, gak harus dimodel-modelin biar terlihat cantik, kok. Tapi bagaimana cara kita menggunakan yang baik didepan Allah SWT. dan juga orang lain termasuk lawan jenis. Dalam agama, memang diajarkan bagi para perempuan yang sudah akil baligh memakai hijab. Nah, kebanyakan nih, orang-orang muslim yang baru memakai hijab belum tau cara memakai hijab yang baik dan benar sesuai ajaran Rasulullah SAW.

Gue adalah salah satu dari sekian juta umat Muslim yang menggunakan hijab. Bisa dibilang lama, bisa dibilang juga baru. Bukannya baru ngerti soal ajaran agama Islam, lho. Tapi baru ngerti apa itu arti hijab yang sesungguhnya. Kebanyakan, perempuan yang berhijab itu selalu memakai hijab dengan model atau versinya sendiri. Ada yang dimodel kayak artis, atau hanya dipakai model segitiga yg biasa anak sekolahan pakai. Nah tapi, bagi orang-orang yang belum paham menggunakan hijab, pasti kalian semua pernah atau sering lihat ada yang hanya asal pakai tapi rambut masih terlihat keluar dari sudut hijabnya, kan? Tapi gue gak tau sih, dalil Rasulullah yang pas bagi mereka yang menggunakan hijab seperti itu.

Sebenarnya, hijab itu adalah kerudung. Tapi biasanya, kerudung itu diartikan sebagai salah satu penutup kepala yang langsung pakai yang biasanya dipakai oleh ibu-ibu yang gak mau repot memodel-modelkan kerudungnya. Sekarang malah berubah arti menjadi hijab. Nah, banyak orang yang sudah banyak memakai hijab. Gue sebenarnya sudah pakai hijab sejak kelas 2 SMA sampai sekarang. Berarti, hitung sendiri yaa lama gue pakai hijabnya. :D

Hijab itu bukan soal model-model yang bagus, kok. Tapi, hijab itu adalah kesesuaian diri kita terhadap ajaran Allah dan RasulNya supaya para perempuan menutup auratnya rapat-rapat dari godaan syaitan yang terkutuk. Naudzubillah Min Dzaaliik. Menurut ajaran Rasulullah, bagi para perempuan yang belum memakai hijab atau menutup auratnya rapat-rapat, niscaya akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat nanti. Bukannya mau nakut-nakutin, sih. Tapi ini kenyataan, kenyataan ajaran Rasulullah dalam Islam. Banyak kok keuntungan memakai hijab. Jangan takut kehilangan pekerjaan, jauh dari jodoh dan gak punya teman. Itu salah besar, guys!

Memakai hijab itu ada keuntungannya, lho. Mau tau?

1.     Hijab itu membuat seseorang menjadi lebih sabar dalam menghadapi masalah. Sebesar apapun masalah itu, serahkan kepada Allah. Niscaya Allah akan membantu menyelesaikan masalah kamu.


2.    Hijab itu bisa mendekatkan seseorang dengan jodoh Allah, lho. Gak percaya? Memang banyak yang belum menemukan jodohnya, tapi yakin deh, setelah kamu berhijab Insya Allah kamu akan bertemu dengan seseorang yang tak lain adalah jodohmu yang ditakdirkan oleh Allah. :)


3.    Hijab itu bisa membuat seseorang menjadi lebih sopan. Kalo yang ini pasti percaya, dong. Perkataan yang masih kotor sebaiknya dijauhkan, deh. Jangan sampai kamu terlihat buruk didepan orang lain hanya karena perkataanmu yang masih kotor.


4.    Orang yang bekerja menggunakan hijab, pasti akan dipandang lebih baik oleh para klien atau customer. Meskipun terlihat berbeda dari karyawan lain, orang kantoran pasti akan lebih cantik dan anggun apabila memakai hijab saat bekerja.


5.    Hijab is fun! Keberhasilan dirimu menjadi seorang hijabers ditentukan oleh dirimu sendiri lho, guys. Apabila perasaan dan hati kamu bahagia ketika menggunakan hijab, niscaya kamu akan selalu senang saat bepergian atau jalan-jalan menggunakan hijab.


Nah sekarang, hijab itu gak bikin malu, kok. Kamu pasti akan selalu mendapat bahagia ketika kamu mulai memakai hijab dari dalam hati. Ingat! Memakai hijab bukan datang karena iri melihat orang lain lebih cantik menggunakan hijab, tapi datangnya dari dalam hati dan kemauan diri kita sendiri. Kalau kita menggunakan atas dasar cinta terhadap Allah dan RasulNya, Insya Allah, Mereka akan memberkahi kalian saat mulai menggunakan hijab. :D

So, jangan pakai hijab setengah-setengah, yaa. Yuk, mulai memakai hijab dari sekarang. Memakai hijab itu, tak sesulit kita menghadapi kemacetan dijalan, kok. :D

Semoga, kalian membaca tulisan ini dengan seksama, ya. Apabila ada keluhan atau kritik serta saran, silahkan email ke: putriajengaryanti@yahoo.com atau mention ke Twitter: @artni_p. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kalian yang sudah berhijab, dan bagi yang belum semoga terinspirasi, yaa. ❤

Much Loves,


Ajeng.

4.23.2015

Siapkah Kau 'tuk Jatuh Cinta, Lagi?

Meski bibir ini tak berkata
Bukan berarti ku tak merasa
Ada yang berbeda
Diantara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu
Hanya karena
Diriku tak mampu untuk bicara
Bahwa aku
Inginkan kau ada
Di hidupku ...



Itulah penggalan single terbaru dari grup musik HiVi! yang berjudul Siapkah Kau ‘tuk Jatuh Cinta Lagi yang sering dilihat di akun Instagram dan Twitter milik HiVi! yaitu @sayhivi dan juga para personelnya. Awal kemunculan hashtag #SIAP di Instagram dan Twitter serta Official Page Facebook milik grup bentukan Nino ‘RAN’ ini membuat banyak HiFriends –sebutan untuk penggemar HiVi!- jadi kebingungan, ada apa dengan hashtag tersebut? Serta, kemunculan beberapa video di Instagram yang berdurasi 15 detik tersebut semakin gencar dipublikasikan oleh Dalila Azkadi, Ilham Aditama, Ezra Mandira dan juga Febrian Nindyo di akun Instagram masing-masing. Seperti contohnya Ezra Mandira yang memposting video dari sang bunda, Dina Mariana yg berdurasi 15 detik tersebut mengenai hashtag #SIAP tentang single terbaru HiVi! ini. Nah, ada pula Febrian Nindyo yang juga memposting video dari Asta Andoko, seorang gitaris dari RAN mengenai single terbaru mereka. Masih banyak lagi video-video yang diposting oleh mereka termasuk para teman/sahabat dari para personilnya.


Di akun Instagram milik Dalila Azkadiputri, dia juga memposting video dari sahabat dekatnya yang menyatakan #SIAP dengan single terbaru mereka. Nah, HiVi! juga mengajak serta para HiFriends untuk memposting ke #SIAP an kalian menunggu single terbaru mereka. Gak sedikit yang ikutan, bahkan banyak banget. Bahkan, hampir semua memposting ke #SIAP an mereka di akun Instagram masing-masing. Bahkan, kedua manager dari band ini, yaitu Maharani Wandita dan Bima Pramudia juga ikutan menyatakan bahwa mereka #SIAP dengan gebrakan baru yang dibuat oleh band yang sudah berusia 4 tahun pada akhir Januari kemarin. Dan juga, para personil band pengiring HiVi! juga menyatakan #SIAP di akun Instagram HiVi! lho. Wah, kurang apa lagi ya dukungan untuk single terbaru  HiVi! yaa??



Nah sekarang, single terbaru dari HiVi! ini sudah bisa direquest di radio-radio seluruh Indonesia sejak tanggal 22 April kemarin. Dan, lagu ini juga sudah tersedia di iTunes lho. Bagi kalian pengguna Apple, silahkan download dan nikmati single terbaru mereka, ini link-nya: https://itunes.apple.com/id/album/siapkah-kau-tuk-jatuh-cinta/id985689519. Jangan lupa request di radio-radio kesayangan HiFriends di seluruh Indonesia ya. Pokoknya jangan download ilegal, dan cintai karya anak-anak Indonesia. Semoga suka dengan single dan juga bandnya yaa hihi :D




Terus dukung grup musik favorit kalian untuk terus berkarya di industri musik Indonesia. Selamat untuk HiVi! kita tunggu gebrakan terbaru dari mereka selanjutnya yaa HiFriends!







1.09.2015

Antara Waktu dan Biaya

            Setiap orang pasti memiliki pekerjaan untuk membiayai kehidupannya masing-masing, mungkin untuk biaya hidup anak dan istri. Banyak juga yg bekerja di kawasan terpadu di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara, terlebih jika mereka ditempatkan diluar Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang. Bagi orang-orang yg memiliki kendaraan seperti sepeda motor atau mobil pribadi tentu akan memudahkan mereka untuk pergi ke tempat kerja mereka yg jaraknya sangat jauh dr rumah. Lalu, bagaimana dengan mereka yg tidak memiliki kendaraan dan harus pergi ke kantor menggunakan angkutan umum seperti bis, kereta dan busway? Ini jawaban mereka.

            Sebelumnya, saya pernah berkeliling Jakarta menggunakan angkutan umum seperti busway dan kereta Commuter Line pada hari kerja. Ternyata, banyak yg menggunakan jasa angkutan umum tersebut dan bahkan hampir setiap hari. Saya melakukan perbandingan antara busway dengan kereta Commuter Line yang hampir setiap menit datang mengangkut penumpang sampai tujuan. Pertama-tama, saya menggunakan angkutan kereta Commuter Line dengan tujuan akhir stasiun Bekasi dimulai dari stasiun Jakarta Kota. Saya tidak pernah menanyakan nama kepada org yg saya ajak bicara karena mereka takut saya berbuat kejahatan seperti yg terjadi sebelum-sebelumnya. Yang pertama adalah wanita, kira-kira umurnya 34 tahun, dia bekerja di sebuah perusahaan di daerah Bekasi. Rumahnya berada di Muara Karang, Pluit, Jakarta Utara. Setiap hari, wanita tsb mengatakan kpd saya bahwa dia lebih nyaman dan enak menggunakan kereta dibanding busway. Menurutnya, jika ia naik busway menuju tempat kerjanya di Bekasi, ia akan terlambat sampai kantor dan akan dikenakan sanksi hukuman dr atasannya. Ia mengatakan bahwa lebih cepat sampai kantor jika naik kereta dibanding busway. “Lebih enak naik kereta mbak ketimbang busway. Soalnya kan kantor saya jauh di Bekasi, takut telat dimarahin sm bos jadi saya naik kereta aja dr Kota,” tuturnya.

            Kemudian, orang yg kedua yg saya ajak berdiskusi adalah seorang pria paruh baya, kira-kira usianya hampir 50 tahun. Beliau bekerja di sebuah perusahaan di Juanda. Jawaban yang sama dgn wanita yg diatas tadi mengenai perbandingan antara busway dengan Commuter Line adalah soal waktu. “Iya neng, saya kerja di Juanda rumah di Bekasi. Kalo dihitung-hitung, bisa-bisa saya gak sampe kantor kalo naik busway. Kan kalo pagi tuh jalanan macet ya apalagi daerah Harmoni, belum nunggu buswaynya yg lama. Harus pindah-pindah halte. Kalo naik kereta kan lebih cepat, lebih murah, enak lagi,” katanya. Namun, beliau mengatakan baru beberapa bulan ini ia menggunakan kereta untuk bepergian menuju kantor atau kembali pulang kerumahnya di Bekasi. Sebelumnya, ia mengaku menggunakan busway dan angkutan umum utk pergi ke kantor pada pagi hari. “Saya pernah naik angkot dr rumah di Bekasi, wah itu yg namanya macet udah dimana-mana. Saya aja sampe kantor jam 9 pagi, kalo naik kereta bisa jam 8 atau setengah 9. Lebih cepet naik kereta lah,” ujarnya.

            Orang yang ketiga adalah seorang mahasiswi, umurnya kira-kira 20 tahun. Ia sedang mengenyam pendidikan di sebuah universitas di daerah Klender. Rumahnya di sekitar Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada saat itu, saya berpikir bahwa betapa beruntungnya saya yg msh bisa kuliah dengan jarak yg tidak sangat jauh dan tidak perlu bersusah payah berdesak-desakan didalam kereta untuk sampai di kampus. “Ini aja saya baru mau ke kampus mbak, masuk jam 12 siang. Makanya berangkat jam segini. (Pada saat itu jam menunjukkan pukul 10.00 WIB). Abisnya kalo naik angkot suka lama mbak, belom ngetem-nya di kalibata lama, terus hrs turun angkot pindah jurusan. Belom lagi kalo angkotnya nggak ada, mesti nunggu lagi. Bisa sampe kampus jam berapa saya mbak kalo naik angkot. Kebetulan kan udah ada kereta, rumah saya juga deket sm stasiun Pasar Minggu Baru. Kalo ada kereta knp mesti naik angkot?“ katanya.  Menurutnya, untuk segi waktu lebih efisien menggunakan kereta dibanding angkutan umum  seperti bis, angkot atau busway. Mentok-mentok, kalau masih macet mereka menggunakan ojek sebagai sarana yg cocok utk menerobos kemacetan di Jakarta ini.

            Dari ketiga orang yg saya ajak bicara ketika sedang berada didalam kereta Commuter Line jurusan Jakarta Kota-Bekasi adalah masalah waktu dan biaya.


            Kedua, saya menggunakan buaway utk menuju tempat tinggal saya di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Saya naik busway TransJakarta dari halte Dukuh Atas 1 menuju Harmoni dan melanjutkan lagi menuju Lebak Bulus. Di halte Dukuh atas, saya bertemu dgn seorang anak lelaki muda, usianya kira-kira 25 tahun. Ia ingin pergi ke kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat. Ia mengeluh karena keterlambatan datangnya busway dr Blok-M menuju Harmoni. Saya hanya tersenyum pada saat itu. Ketika saya tanya, dengan nada pelan dan ramah, ia menjawab pertanyaan saya semuanya. “Saya mau ke Duri Kepa mbak, mau nengokin saudara saya disana. Ini udah hampir sejam saya nunggu disini tapi busway-nya nggak sampai-sampai. Kalo aja ada kendaraan yg lebih cepat dari busway, saya mau naik mbak biar cepet sampe sana,” katanya. Namun, ketika saya singgung mengenai kereta Commuter Line, ia mengatakan, “Tadinya saya juga mau naik kereta mbak, cuma saya nggak tau angkot ke rumah saudara saya itu. Saya taunya naik busway aja, tapi kalo ke kantor saya sih naik kereta mbak, cuma baru kali ini aja saya naik busway. Ternyata lama ya”.

            Kemudian, di halte busway Harmoni, saya bertemu dengan seorang wanita, kira-kira umurnya 27 tahun. Ia bekerja di kawasan Kebon Jeruk dengan rumahnya yg berada di Jatinegara. Sama halnya dengan lelaki diatas, ia mengeluhkan keterlambatan datangnya busway jurusan Lebak Bulus-Harmoni. “Biasanya sih nggak lama mbak, tapi ini kok tumben sih lama ya datengnya?” keluhnya. Dengan santainya, obrolan kami pun semakin panjang. “Iya mbak, saya mau kerja di Kebon Jeruk. Kan kalo naik kereta nggak ada stasiunnya. Ya mau nggak mau saya harus naik busway dgn resiko lama dan telat. Sebenernya sih kalo ada stasiun Kebon Jeruk ya saya naik kereta aja mbak dari Jatinegara. Tapi adanya busway ya saya harus naik ini ke kantor, biasanya sih suami saya yg nganter tp dial g masuk pagi terus saya masuk siang jadi nggak bisa nganter ke kantor deh,” tuturnya.

            Bisa disimpulkan, bila dihitung-hitung dari segi waktu, lebih cepat naik keret Commuter Line dibanding bus TransJakarta. Namun, dari segi biaya, lebih murah naik bus TransJakarta daripada kereta Commuter Line. Hampir 99% orang yg saya ajak bicara dan mengajak saya bicara baik di dalam kereta atau bus TransJakarta, mereka lebih mengutamakan waktu dibanding biaya dan keselamatan diri sendiri. Contohnya seperti di stasiun Tanah Abang setiap pukul 17.00 WIB. Kereta yang menuju Serpong, Parung Panjang hingga Maja penuh sesak oleh penumpang yg kebanyakan turun di stasiun Pondok Ranji, Sudimara, Serpong dan Parung Panjang. Berdesak-desakan, saling dorong dan memaksakan diri untuk masuk kedalam rangkaian kereta adalah hal yg biasa bagi mereka yg rumahnya berada di sekitar Serpong dan Parung Panjang bahkan Maja sekalipun. Pulang dengan tubuh yang sakit karena berdesakan ketika ingin masuk/keluar kereta menjadi makanan utama bagi mereka. Mereka sudah biasa dengan hal seperti itu. Terlebih jika mereka tidak mendapatkan kereta atau ketinggalan kereta karena keterlambatan. Suara teriakan dan rintihan kesakitan akibat berdesak-desakan didalam kereta sudah hal biasa bagi petugas kereta Commuter Line yang bersiap siaga menjaga disetiap rangkaian kereta.

            Jika dihitung dalam biaya, untuk kereta Commuter Line sekali perjalanan bisa memakan biaya Rp 3000,- hingga Rp 4000,- dgn tujuan akhir yg mereka inginkan. Karena, Rp 2000,- setiap 5 stasiun pertama dan Rp500,- setiap 3 stasiun berikutnya. Jika menggunakan bus Transjakarta, satu kali perjalanan hanya memakan biaya Rp 3500,- kemanapun tujuan akhirnya. Jadi, lebih murah menggunakan busway daripada kereta Commuter Line.

            Kesimpulan dari saya, jagalah diri sendiri dari orang lain disekeliling Anda. Karena, kesempatan pada saat seperti itulah yang menjadi sasaran empuk bagi para pencopet untuk mendapatkan hasil dari mangsanya. Semoga, tulisan saya ini bermanfaat bagi Anda semua pengguna jasa angkutan bus TransJakarta dan kereta Commuter Line. Mohon maaf jika ada kesalahan nama, penulisan dan lain-lain. Sekian dan terimakasih.










(nb: Saya menulis tulisan ini karena saya sebelumnya sudah melakukan riset serta observasi menggunakan 2 jasa angkutan umum milik Pemerintah dan saya sudah merasakan berdesak-desakan dalam kereta Commuter Line dan bus TransJakarta. Jika Anda berkomentar negatif tentang tulisan saya ini dan atau memprotes tentang angkutan umum milik Pemerintah ini, lebih baik Anda rasakan dulu seperti apa yg mereka rasakan setiap hari. Terimakasih)

12.31.2014

Live. Love. Laugh.

          Ada kalanya kita merasa ingin menyendiri, merenungkan apa yg telah kita lakukan selama ini. keinginan untuk bahagia, selalu terlintas termasuk membahagiakan mereka, kalian dan dia yang selalu hadir dalam setiap mimpi, doa dan kehidupanku sehari-hari. Ingin rasanya melihat mereka dan dia tersenyum bahagia, tersenyum karena aku bisa membuktikan kpd mereka bahwa aku telah sukses. Sukses dalam segala usahaku selama ini. namun terkadang, rasa sedih juga melintas di pikiranku, mengapa aku selalu mengecewakan mereka, membuat mereka marah, mereka kesal. Membuat mereka, kalian dan dia menangis. Apa salahku? Aku harus berbuat apa agar mereka tidak menangis dan marah seperti itu lagi?

          Aku ingin membuktikan kepada mereka, “Hai lihatlah. Aku sudah sukses, aku sudah menggapai cita-citaku saat ini. Aku berbeda, aku tidak seperti yang dulu, dulu sebelum aku seperti ini, aku menjadi seseorang yang bisa membuktikan kpd mereka, kalian dan dia bahwa aku saat ini sudah menjadi apa yg aku inginkan”. Dibalik kesuksesan seseorang, ada orang lain yang selalu mensupport, memotivasi dan selalu berada dibalik layar yg setiap hari hadir di kehidupannya yaitu DIA. Hai kamu, saat ini aku masih belajar untuk menjadi apa yg kamu inginkan. Suatu saat nanti, kamu akan melihat perubahan dari dalam diriku sendiri. Perubahan yg sangat signifikan, perubahan yang membuat orang lain menjadi terperanga melihat diriku. Saat ini, aku masih sama seperti apa yg kamu lihat kemarin. Aku belum berubah, aku masih butuh proses untuk menjadi seseorang yg lebih dewasa, lebih baik lagi dan mampu bangkit dr keterpurukan.

          Mungkin mereka, kalian dan dia tidak pernah tau perjuangan yg telah aku lewati untuk menjadi orang yg lebih baik lagi. Saat ini, aku masih dalam bimbingan, proses belajar dan mencoba menjadi orang yg mereka inginkan. Mereka, yang selalu menjadi motivasi aku untuk tetap hidup. Kalian, yang selalu hadir disetiap waktu untuk membuatku selalu tersenyum, tertawa dan bahagia. Dia, yang selalu menjadi inspirasi aku selama ini dan selalu menjadi yang paling pertama untukku agar aku terus belajar, menggapai keinginanku di masa yang akan datang. Dia, yang selalu mensupport apapun keinginan dan selalu memberikan nasehat agar aku selalu belajar, belajar dan belajar. Dia, adalah orang yang selalu menjadi bagian dalam hidupku setelah mereka, orangtua dan keluarga. Dibalik kalian, teman-temanku yang selalu mengajarkanku cara berteman, cara berbicara dan cara bertoleransi sesama manusia.

          Tidak banyak kata-kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya aku memiliki mereka, kalian dan dia, yang selalu membuatku tersenyum, tertawa dan hidup. Aku ingin melihat mereka dan dia serta kalian selalu tersenyum atas kehadiranku. Tahun ini adalah tahun dimana aku akan memasuki usia yang semakin lama semakin tua, yang dimana aku memiliki keinginan untuk semakin berpikir lebih luas dan semakin termotivasi untuk terus membuat mereka dan dia serta kalian selalu tersenyum bahagia. Satu keinginanku, aku ingin melihat mereka tersenyum bahagia dan menangis melihat aku sukses dan lulus dari sebuah universitas dengan gelar yang aku miliki dibelakang namaku. Aku hanya ingin mereka seperti itu, menangis bahagia atas prestasi yg telah diraih oleh anak kesayangan dan tercintanya. Serta, aku ingin kalian selalu ada untuk selalu membuat hidupku menjadi lebih baik dan semakin baik.

8.07.2014

Jodoh, Cinta dan Takdir

Semua wanita pasti menginginkan seorang pasangan yang selalu menemani hidupnya hingga akhir hayat. Baik dia berwajah tampan, sholeh, baik budi pekertinya, apalagi sangat sayang terhadap orangtua. Itu adalah dambaan semua wanita. Akan tetapi, akankah ia menerima pasangannya jika pasangannya itu memiliki kebiasaan yang buruk, misalnya sering mabuk, sering pulang malam bahkan pagi buta, atau melakukan kekerasan pada wanita? Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Suami dengan istri, begitupun sebaliknya. Apakah mungkin mereka bisa menikmati hidup dengan nyaman? Tidak. Pasti akan ada masalah dan badai yang menghadang diantara mereka. Tuhan sayang terhadap manusia yang terus berusaha dan berjuang untuk mendapatkan jodohnya. Apakah mungkin, Tuhan akan memberikan seseorang jodoh yang begitu cepat sehingga memungkinkan dia untuk segera menikah secara agama dan hukum? Tentu saja hanya kita dan Tuhan yang tau itu semua.
 Jelas, Tuhan memberikan pasangan yang tentunya adalah jodoh kita dimasa mendatang. Entah kapan Tuhan memberikan, hanya Dia yang mengetahui semuanya. Jodoh.. cerita tentang jodoh. Saya memiliki seorang teman bernama Ananda. Dia bilang kepada saya dan teman-temannya semasa SMP, ketika dia lulus SMA nanti, dia tidak mau kuliah atau kerja. Melainkan dia menunggu untuk dilamar oleh kekasihnya lalu menikah. Entah apa yang dia ucapkan pada saat itu adalah hanya gurauan bagi teman-temannya, saya bercerita kepada ibu saya tentang cerita Nanda tadi. Ibu saya hanya tersenyum dan berkata, “jodoh ada ditangan Tuhan. Kita tidak tau apakah dia akan segera dilamar oleh kekasihnya atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tau cerita dibalik itu semua”. Sontak, saya terdiam sejenak. Meneliti perkataan Nanda saat itu. Setelah kelulusan, hampir 3 tahun kami tidak berkomunikasi. Hanya melalui Facebook kami bercerita dan mengulang masa-masa SMP yang pada saat itu adalah masa dimana kami masih mengenal lebih dalam tentang cinta. Tahun 2014, Nanda resmi dilamar oleh kekasihnya yang bernama Agung. Saya kaget dan sampai heran, apakah ini yang dinamakan takdir dan jodoh? Secepat itukah teman masa SMP saya memutuskan untuk menikah? Ternyata perkataan dia saat itu dikabulkan oleh Tuhan. Tepat bulan Juni lalu, ia melangsungkan akad nikah dirumah orangtuanya. Seketika saya langsung menghadiri resepsi pernikahan mereka dan mengucapkan selamat berbahagia, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Saat itu, saya berada dikampus dan sedang mempresentasikan hasil studi ilmiah saya dan teman-teman. Melihat jam menunjukkan pukul 2 siang, langsung saya pergi menghadiri acara resepsi pernikahan Nanda dan Agung. Sungguh bahagia mereka, melihat teman-teman mereka datang satu persatu menyalami kedua mempelai. Betapa hebatnya takdir yang diberikan oleh Tuhan saat itu.
 Setelah melihat adanya keajaiban tentang apa yang dikatakan Nanda pada saat SMP dulu, telah menggetarkan hati dan nurani saya. Apakah saya akan seperti Nanda dan Agung juga, menikah di usia yang sangat muda? Padahal dalam pikiran berkata, saya masih ingin menikmati hidup saya sebagai remaja yang bahagia dan tidak sedang mencari pasangan hidup. Saya masih ingin melanjutkan pendidikan saya dan kemudia bekerja sebagai karyawan perusahaan. Namun, jauh didalam hati saya, menginginkan adanya kekasih sebagai penyemangat hidup dan kegiatan sehari-hari saya. Tuhan masih menyimpan jodoh saya untuk diberikan pada waktu yang tepat. Kapan? Entah. Hanya Tuhan yang tau kapan jodoh saya datang. Saya bukanlah satu-satunya orang yang tidak memiliki kekasih saat ini. Masih banyak orang yang seperti saya. Mungkin Tuhan memberikan saya hari-hari tanpa kekasih. Jika saya memiliki kekasih saat ini, apakah saya akan bahagia dengannya? Apakah dia akan setia kepada saya? Apakah dia akan menerima kekurangan dan kelebihan saya sebagai penyemangat hidupnya? Jawabannya: bisa saja itu terjadi kepadanya jika ia tak kuat berpacaran dengan saya. Saya terus berdoa kepada Tuhan, perlihatkan jodohku jika ia berada disekitarku. Dan, jika jodohku jauh, dekatkanlah kepadaku. Dan bahkan saya sangat mengerti perasaan seorang laki-laki yang ditolak oleh wanita/calon kekasihnya. Dan bahkan saya pernah mengalami hal seperti itu.
Saya tidak akan bercerita disini, tetapi Tuhan tau cerita saya semuanya sejak awal sampai saat ini. Thankyou so much for read my blog. Have a nice day! :)

7.06.2014

Ilham Aditama 'HiVi!'

         


          Ilham Aditama, atau yg sering biasa dipanggil Ilham ini adalah vokalis grup band HiVi! yg dibentuk pada tanggal 30 Januari 2009. Cowok pecinta design, travelling dan browsing ini adalah anak ketiga dari tiga bersaudara kelahiran Jakarta, 20 September 1991. Penyuka makanan Italian Food ini sangat mengidolakan Johny Depp, Coldplay dan juga Ari Lasso. Kekasih pemain sinetron dan film Jessica Mila Agnesia ini bercita-cita ingin menjadi penerjun dan design lhoo… (jadi penerjun dihatiku mau gak Ham? :D)






          Ngomongin soal Ilham Aditama ini ga akan ada habis-habisnya. Cowok yang paling jahil diantara personil HiVi! lainnya ini ternyata ga bisa diem lho kalo udah diatas panggung. Bahkan, saking aktraktifnya di panggung, anak pasangan Deddy Nugraha dan Diana Ameriwati ini selalu keringetan lho. Ini yg menjadikan para #HiFriends (sebutan dari fans HiVi!) semakin tergila-gila karena Ilham. Wiiih, makin banyak deh #HiFriendsnya! :D





          Mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan ini paling sering olahraga gowes, gym dan jogging lho. Siapa tuh yang mau nemenin Ilham jogging bulan puasa gini hayoooo? Tapi oh tapi, pemilik akun twitter @IlhamAditama ini mengaku jarang ke tempat gym karena kesibukannya manggung bersama HiVi! yg hampir setiap hari menerima tawaran manggung off air. Alumni SMA 82 Jakarta ini sangat menyukai warna cokelat lho #HiFriends. Pasti udah pada tau dong? Nah, Ilham ini juga sering mengedit foto dan mengunggah ke akun Instagramnya, iaditama. Selain itu, hasil editan foto Ilham juga tak aklah bagus dan kerennya sehingga sering mendapatkan banyak liked dari para followersnya. Wihiiiiihhhh.....




          Ilham sangat phobia pada serangga lho. Coba kalo #HiFriends ngasih hadiah serangga ke Ilham, pasti dia langsung kabur lari pergi jauh deh karena menghindari serangga itu haha. Nah tapi, ada yg paling disukai sama seorang pemilik tinggi badan 175 cm ini, yaitu gangguin orang. Terbukti, orang-orang disekeliling Ilham pernah menjadi korban kejahilannya itu. Sebut saja Ezra Mandira, Bima Pramudia, hingga sang kekasih sendiri, Jessica Mila. Gak kebayang dong betapa jahilnya Ilham? Tapi, sejahil-jahilnya Ilham, dia sangat mencintai kekasihnya lhoo.. waaah, so sweet yaaah mereka.





          Adik dari Jelita Amanda dan Aldi Anggalaksana ini paling suka diam dikamar daripada pergi jalan-jalan yang gak ada untungnya buat Ilham. Ketika sedang libur manggung bersama HiVi!, Ilham lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarganya dirumah lho.. pecinta keluarga juga yaah ternyata hihi. Namun, terkadang, Ilham juga suka nongkrong bersama teman-temannya disalah satu tempat makan di pinggir jalan lho guys. Untuk tempatnya, cari tau sendiri yaaah hihi. Hobi baru yang sedang digeluti Ilham saat ini adalah memiliki motor BMW Klasik R75/5 lho. Siapa tuh yg mau diboncengin sama vokalis ganteng yg satu ini? Ilham juga sering jalan-jalan menggunakan motor barunya itu bersama teman-temannya lho. Nah, yg ketemu sm Ilham dijalan nanti minta ajak bareng, lumayan kaaan bareng sama Ilham haha.





          Sekilas, itulah profil tentang Ilham Aditama. Kurang lebihnya mohon dikurang-kurangin, jangan dilebih-lebihin. More info about him, please check http://itnayragjena.tumblr.com/post/54425720518/profil-ilham-aditama. Thankyou and arigatou! :D


6.26.2014

God is Everything

          Banyak kejadian yang tak terduga bisa kita alami, contohnya kecelakaan. Kecelakaan bukan berasal dari kita sendiri, melainkan musibah yang datangnya dari Tuhan. Tetapi jika manusia itu sendiri menginginkan adanya kecelakaan, ya itu hanya Tuhan dan manusia itu sendiri yang tau. Gue uda banyak banget bahkan sering mendapat cobaan dari Tuhan selama hidup. Begini ceritanya……


          Cobaan yang dikasih oleh Tuhan itu bermacam-macam, kalo gue kebetulan kena fitnah dari salah satu temen gue yang pernah gue banggakan kepada semua orang diluar sana. Nah, cobaannya ini yang lagi Tuhan uji ke gue, apakah gue mampu menyelesaikan cobaan ini atau ngga. Sebenernya, Tuhan sayang sama semua umatnya, makanya kita dikasih cobaan seperti ini, serta derajat kita diangkat jika kita selalu meminta permasalahan atau cobaan ini segera selesai kepada Tuhan. Sesungguhnya, manusia itu banyak dosa dan kita selalu dengan sengaja atau tidak melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi orang-orang yang mendengar atau melihat. Gue ga mau bongkar rahasia disini karena gue takut dia membacanya dan melihat isi postingan blog gue ini.


          Hanya sekedar mengingatkan, God is everything. And you must know, God is always see his people do and say. So, you must realized all evil and fill it with kindness to others. Gini yaa, fitnah lebih kejam daripada fitness cyiiin.. eh salah deng, maksudnya fitnah lebih kejam dari kejahatan. Lo bisa ganti itu semua, tapi dihadapan Tuhan nanti, lo akan menjawab sendiri pertanyaan dari malakat sebelum lo masuk ke neraka atau surga (berat amat kata-kata gue.. hehehe…).


          Jadi intinya, you must be careful of the words and actions out there. So, enjoying your life, happiness in your hand, berbuat baiklah sebelum kejahatan mencurigai dan menghampirimu setiap saat dan setiap waktu. Sekian dan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3.24.2014

My Future

I want to be an announcer for a national radio in Jakarta


And I will be a career woman and working in marketing accounting


And will create jobs for the unemployed and lower the crime rate in Indonesia


Make Indonesia as a tourist destination of foreign tourists


As well I will improve the quality of education in Indonesia and make the childrens can get to know the world of education and the surrounding

2.20.2014

Persahabatan yang tak hilang

Pagi hari yang sangat cerah, Marcha bersiap-siap menuju sekolahnya yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Begitupun dengan sahabatnya, Nala. Setiap hari, mereka selalu berangkat bersama menuju sekolah, karena mereka satu kelas dan bersahabat sejak kecil. Nala adalah anak yang aktif, baik, dan ramah. Namun disaat ia duduk dibangku SMP, Nala mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kedua matanya menjadi buta. Marcha yang sangat sayang kepada sahabatnya itu berjanji akan mencarikan pendonor mata untuk Nala.

            “Ma, aku berangkat sekolah ya,” kata Marcha.
            “Kamu bareng sama Nala ya? Hati-hati dijalan ya sayang,” jawab wanita paruh baya itu sambil mencium kening anak semata wayangnya. Akhirnya, ia pergi menuju rumah Nala dan berangkat bersama ke sekolah. Sepanjang jalan, Marcha terus berpikir agar bisa mendapatkan pendonor mata untuk Nala agar sahabatnya itu bisa melihat kembali. Sesampainya dirumah Nala, ia melihat seorang cowok ganteng sedang berdiri didepan rumah Nala. Marcha menghampiri cowok itu yang sedang duduk santai diteras rumah.
            “Hai ka Tama. Lagi ngapain kak?” tanyanya ramah.
            “Eehh ada Marcha. Masuk sini Cha. Mau jemput Nala ya?” jawab cowok itu.
            “Iya nih kak. Nala ada didalam?” jawab Marcha sambil duduk disamping Tama.
            “Ada, bentar lagi juga keluar kok. Nah nih dia orangnya,” kata Tama samil menengok kedalam rumahnya. Nala keluar dari dalam ruamhnya sambil meraba-raba tembok. Tama langsung menolong sang adik yang ingin berangkat kesekolah bersama Marcha.
            “Kak, udah ada Marcha apa belum?” tanyanya sambil memegang tangan Tama.
            “Ini ada disebelah kamu, dia udah datang daritadi,” jawab Tama sambil memberikan tangan Nala kepada Marcha.
            “Udah siap Nal? Yuk berangkat,” jawab Marcha memegang tangan Nala.
            “Iya. Yuk berangkat sekarang aja Cha, nanti takutnya telat,” jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya, mereka berdua pergi bersama ke sekolah. Dengan penuh rasa sabar, Marcha terus memegang tangan kanan Nala dan berjalan pelan mengikuti langkah kaki Nala. Tangan kiri Nala memegang sebuah tongkat yang setia menemaninya sejak kelas 2 SMP hingga sekarang. Sesampainya disekolah, mereka langsung masuk ke kelas dan duduk bersama.

            Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Marcha membantu Nala membereskan buku-buku dan alat tulis milik sahabatnya itu. Mereka keluar sekolah bersama, Marcha selalu menggenggam tangan kanan Nala. Setibanya dipintu gerbang sekolah, mereka ternyata dijemput oleh Tama, kakak Nala.
            “Cha, masih ada les lagi gak?” tanya Tama.
            “Enggak ada kok kak. Udah selesai,” jawab Marcha tersenyum. Nala sangat hafal dengan suara sang kakak.
            “Ada kak Tama ya Cha?” tanya Nala penasaran.
            “Iya, kakak ada disini. Mau jemput kalian. Pulang yuk,” jawab Tama sambil meraih tangan Nala.
            “Tumben kak Tama jemput kita. Makasih banyak ya kak,” jawab Nala sambil berjalan menuju mobil Tama. Begitupun juga Marcha, yang terus berada dibelakang Nala dan Tama. Mereka pun pulang sekolah bersama Tama.

            Sesampainya dirumah Nala, Marcha pamit untuk langsung pulang kerumahnya.
            “Kak, maaf ya aku gak bisa lama-lama disini. Soalnya aku harus bantuin mama dirumah,” katanya mengawali perbincangan.
            “Gak mampir dulu gitu Cha, temenin Nala dirumah kayak biasanya,” jawabnya.
            “Iya nih Cha. Kamu kan biasanya suka main dulu dirumahku, kok sekarang udah jarang banget sih main?” tambah Nala.
            “Maaf banget ya Nal, besok aku main deh dirumah kamu. Hari ini aku mau bantuin mama dirumah. Gapapa kan Nal?” jelas Marcha.
            “Yaudah deh kalo gitu. Kamu hati-hati dijalan ya Cha. Janji loh besok kamu main kerumah aku,” jawab Nala sambil tersenyum dan berharap.
            “Iya aku janji besok main kerumah kamu pulang sekolah. Bye Nala!” jawabnya sambil keluar dari mobil Tama. Tak lama, Nala juga keluar dari mobil, dibantu oleh sang kakak.

            Sejak pulang dari sekolah hingga sampai dirumahnya, Marcha terus merasakan sesak nafas. Namun, ketika berada didepan Nala, ia sengaja menyembunyikan rasa sakit didadanya. Marcha terus memegangi dadanya yang sesak sambil minum obat yang diberikan oleh dokter seminggu yang lalu. Lalu, ia menuju lemari pakaian dan membuka laci yang berada ditengah-tengah lemarinya. Ia mengambil sebuah map berwarna merah dan membukanya. ‘Tuhan, apakah umurku masih panjang? Penyakit ini sangat mengganggu aktifitasku sehari-hari. Dadaku sakit, sangat sakit. Tuhan, berikanlah aku umur panjang, agar aku bisa melihat sahabatku Nala tersenyum karena sudah mendapatkan pendonor mata yang cocok,’ katanya dalam hati sambil meneteskan air matanya.
“Chaa, makan siang dulu yuk sayang. Udah ada papa nih disini, turun yuk nak,” sang bunda memanggil Marcha dari ruang makan. Seketika ia langsung mengembalikan map yang berisi hasil pemeriksaannya seminggu lalu didalam laci itu. Lalu, ia mengusap air matanya dengan tisu dikamarnya dan segera menuju ruang makan.
“Kamu abis nangis ya Cha?” tanya sang ayah.
“Enggak kok pa, tadi lagi tiduran terus kena debu dari atap kamar aku,” jawab Marcha tersenyum.
“Abis makan, mama tetesin obat mata ya. Biar mata kamu gak infeksi nanti,” sambung sang ibu. Marcha meengangguk tanda setuju. ‘Pa, ma, maafin Marcha. Marcha gak bermaksud untuk bohongi mama sama papa. Marcha takut mama sama papa kaget dan tahu tentang penyakit yang sekarang Marcha alami,’ katanya dalam hati sambil memandangi wajah kedua orangtuanya. Setelah selesai makan, Marcha langsung naik menuju kamarnya yang berada dilantai dua.

Hari mulai berganti sore. Dan malam pun tiba. Bel rumah Marcha berbunyi. Sang bunda yang sedang berada diruang keluarga bersama sang suami berlari menuju pintu dan kaget melihat ada seorang cowok tampan berdiri didepan pintu rumahnya.
“Eeehh ada nak Aldo. Tumben datang kesini. Ada apa ya?” kata sang bunda menyapa.
“Marcha ada gak tante?” jawab Aldo.
“Adak kok, paling lagi ngerjain tugas. Sini masuk nak Aldo,” kata sang bunda sambil membawa Aldo masuk keruang tamu. “Tunggu sebentar ya, tante panggilin Marcha dulu diatas”. Sang bunda berjalan cepat menuju kamar anaknya.
Sang bunda mengetuk pintu kamar Marcha dua kali. Tak lama, Marcha membuka pintu kamarnya dan kaget ada sang bunda disana.
“Eehh mama. Ada apa ma?” tanyanya.
“Dibawah ada Aldo tuh sayang. Samperin gih, mungkin ada hal penting yang mau disampaikan sama kamu,” jawab sang bunda sambil mengelus rambut Marcha.
“Ooohh ada Aldo. Yaudah bentar ya ma, aku mau beresin kamar dulu. Nanti aku kebawah temuin Aldo,” jawab Marcha tersenyum simpul. Sang bunda mengangguk dan turun menuju ruang tamu. “Sebentar ya nak Aldo, Marchanya lagi beresin kamar, nanti dia turun kok kesini,” kata sang bunda ramah. Aldo mengangguk sambil tersenyum kepada ibunda Marcha. Tak lama, orang yang ditunggu-tunggu Aldo datang juga.
“Hai Cha. Maaf ya ganggu kamu malam-malam, ada yang mau aku omongin,” katanya sambil berdiri dan menyambut Marcha.
“Ada apa Do? Ngomong aja,” jawabnya santai.
“Gini Cha. Sebenernya, aku udah menyimpan rasa sama kamu sejak kelas 1 SMA. Sampe sekarang, rasa itu masih ada. Jadi intinya, kamu mau gak jadi pacar aku?” kata Aldo. Marcha kaget dan terdiam sejenak mendengar perkataan Aldo. Satu sisi, Marcha sudah berjanji kepada kedua orangtuanya untuk tidak berpacaran dengan teman sekolahnya hingga ia lulus. Namun disisi lain, Marcha juga sayang kepada Aldo, teman semasa SDnya dulu.
“Bisa kasih aku waktu sampai besok lusa? Aku harus berpikir dulu,” jawab Marcha bingung.
“Aku ngerti kok Cha sama perasaan kamu saat ini. Apapun keputusan kamu, akan aku terima dengan ikhlas,” jawab Aldo pelan.
“Makasih banyak ya Do atas pengertiannya,” jawab Marcha tersenyum.
“Kalo gitu, aku pamit pulang ya Cha. Sampai bertemu besok disekolah,” jawabnya sambil pergi. Marcha hanya tersenyum didepan pintu rumahnya sambil memperhatikan Aldo hingga masuk kedalam mobilnya. ‘Bukan maksud aku untuk menolak kamu Do, tapi waktu aku gak banyak. Kamu dan teman-teman lainnya gak tau bahwa aku punya penyakit jantung koroner sejak aku kelas 3 SMP. Maafin aku ya Do,’ katanya dalam hati sambil menutup pintunya.
Keesokan harinya, Marcha kembali kesekolah bersama Nala. Sesampainya dirumah Nala, ia berpesan kepada Tama, kakak Nala.
“Kak, nanti kalo aku udah gak ada tolong jagain Nala ya kak. Aku takut kalo nanti aku gak bisa nemenin dia berangkat sekolah lagi,” jelas Marcha sambil berbisik.
“Cha, kamu ngomong apa sih? Kamu masih bisa bareng sama Nala, gak boleh ngomong gitu,” jawabnya tegas.
“Ya maaf deh kak, aku kan takut aja gitu. Nanti aku cariin pendonor mata yang cocok untuk Nala. Biar dia bisa melihat dunia dan sekitarnya,” jawab Marcha lirih. Tak lama, Nala keluar dan mendengar pembicaraan Marcha dengan Tama.
“Chaaa…kamu gak boleh ngomong gitu. Aku gapapa kok begini, justru karena ada kamu hidup aku jadi lengkap. Meskipun aku gak bisa melihat sekitar, tapi dengan adanya kamu aku jadi bisa merasakan indahnya dunia,” katanya sambil berjalan menuju Marcha.
“Aku janji Nal, aku akan cariin pendonor mata yang cocok buat kamu ya. Aku janji buat kamu,” kata Marcha sambil memegang tangan Nala. Nala meneteskan air mata, dan memeluk Marcha sangat erat. Tama yang melihat persahabatan Marcha dan Nala terharu melihat kedekatan mereka.
“Udah udah, kalian berangkat sekolah sana. Nanti telat lho,” kata Tama mencoba menengah. Nala mengusap air matanya dan segera pergi ke sekolah bersama Marcha. ‘Nal, maafin aku. Aku bohong sama penyakit aku sama kamu, aku gak mau kamu sedih dan terus mikirin kondisi aku saat ini. Maafin aku Nal, maafin aku,’ kata Marcha dalam hati. Ia mencoba tersenyum walaupun ia sudah berbohong kepada sahabatnya sendiri.

Sesampainya disekolah, Marcha mengantarkan Nala ke kelas. Lalu, ia pamit kepada Nala yang sedang duduk diam.
“Nal, aku ke kamar mandi dulu ya sebentar. Kamu jangan kemana-mana,” katanya.
“Oohh iya Cha,” jawabnya sambil mengangguk. Marcha segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu. Dadanya semakin terasa sakit, sangat sakit dibandingkan kemarin. Marcha mengeluarkan obat yang sengaja ia bawa dari rumah dan meminumnya. Beberapa saat setelah ia minum obat itu, bel tanda masuk sekolahpun berbunyi. Marcha segera masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Sepulang sekolah, ia pulang bersama Nala. Kali ini, ia menepati janjinya kemarin bahwa akan main dirumah Nala hingga sore. Nala menagih janji Marcha kemarin.
“Cha, hari ini kamu jadi main kan kerumahku?” tanya Nala.
“Iya kok, aku jadi main kerumah kamu sekarang,” jawab Marcha sambil menyembunyikan rasa sakit didadanya.
“Kamu gapapa kan Cha? Kok suaranya agak beda? Kamu abis nangis ya?” kata Nala heran.
“Aku gapapa kok Nal, Cuma dari semalam aku lagi flu. Jadi suaranya beda begini, maaf ya Nal,” jawabnya sambil tersenyum kecil. Nala masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada sahabatnya itu. Sesampainya dirumah, mereka disambut oleh ibu dan kakak Nala.

“Eeehh kalian udah pulang. Yuk sini masuk, makan siang dulu. Ibu udah buatkan makanan kesukaan Nala,” sambut sang bunda.
“Iya tante, maaksih banyak. Jadi ngerepotin nih,” jawab Marcha tersipu malu.
“Gapapa Cha, anggap aja ini rumah kamu sendiri ya,” sambung Tama.
“Ayo masuk Cha, kita makan bareng-bareng,” ajak Nala sambil masuk kedalam rumahnya. Marcha dan Tama pun ikut masuk kedalam rumah dan menuju ruang makan. Marcha tersenyum kala melihat hidangan yang ada dimeja makan, ia teringat dikala sang ayah berulang tahun sebulan yang lalu. ‘Besok dan selamanya aku gak akan bisa menikmati hidangan ini lagi dirumah, ataupun dirumah Nala,’ katanya dalam hati.
“Duduk sini Cha, disamping aku,” kata Nala.
“Waahh, ini masakan yang aku makan terakhir kalinya. Keliatannya enak ya tante,” ujar Marcha tanpa sadar. Tama, ibu dan Nala terdiam mendengar perkataan Marcha barusan. Tama pun mencoba memeluk Marcha yang saat itu sedang bingung karena mereka diam.
“Ada apa nih? Kalian kok diam semuanya?” tanyanya heran.
“Cha, maafin kesalahan kakak ya selama ini. Kalo kakak ada salah-salah kata, sering ngeledek kamu, sering marahin kamu. Maafin ya Cha,” katanya sambil menahan tangis. Nala pun mendekat ke arah Marcha dan Tama.
“Cha, kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu masih bisa kok makan disini, bareng-bareng sama kita,” kata Nala menangis. Marcha terdiam dan melihat sekeliling. Dadanya semakin sakit, hingga akhirnya ia pingsan dipelukan Tama.
“Chaa…bangun Cha. Marcha bangun Cha,” teriak Tama panik. Nala mencoba membangunkan Marcha tapi tak berhasil. Akhirnya, mereka pun membawa Marcha kerumah sakit dan menghubungi orangtua Marcha.

Sesampainya dirumah sakit, Marcha segera dibawa keruang IGD dan mendapatkan perawatan intensif. Tama berusaha tenang dan mencoba menghubungi orangtua Marcha.
‘Halo tante’
‘Iya halo. Ada apa ya nak Tama? Tumben telfon tante’
‘Ini…anu tante. Mau ngabarin kalo……kalo Marcha itu…’
‘Ada apa sama Marcha?’
‘Marcha masuk rumah sakit tante’
‘Apaaaaaa…………?’ ibunda Marcha kaget dan shock. Sang suami pun kaget melihat istrinya duduk terdiam sambil menangis disofa ruang keluarga. “Ma, ada apa ma? Mama kenapa begini?” tanya sang suami. Ia melihat sambungan telfon dari Tama masih tersambung. Ia mencoba bertanya kepada Tama.
‘Halo. Ini Tama ya?’
‘Iya om. Tante Devi gapapa om?’
‘Dia kaget, masih shock. Ada apa sebenarnya?’
‘Marcha om……dia masuk rumah sakit barusan’
‘Mar…Marcha masuk rumah sakit? Baiklah, om sama tante segera kesana ya. Terimakasih atas infonya nak Tama’. Kedua orangtua Marcha langsung menuju rumah sakit tempat anak mereka dirawat. Tama, Nala dan ibunya menunggu diruang tunggu sambil menenangkan Nala yang terus-terusan menangis karena khawatir dengan kondisi sahabatnya. Tak lama, datanglah orangtua Marcha. Mereka terlihat berjalan dengan langkah kaki yang cepat, menghampiri Nala, Tama serta ibunda mereka. Dengan wajah yang lemas dan pucat, ibunda Marcha mencoba tenang dan tak henti-hentinya mengucapkan doa agar sang anak kembali sembuh.
“Tante…” kata Tama sambil menyambut orangtua Marcha.
“Gimana kondisi Marcha Tam?” tanya tante Devi.
“Masih ada didalam tante. Yang sabar ya tante, om,” jawab nya pelan. Tak lama, keluarlah dokter yang menangani Marcha. “Apakah diantara kalian ada keluarga pasien?” tanya sang dokter. “Kami orangtua Marcha dok,” jawab sang ayah. “Mari ikut saya. Ada yang ingin saya bicarakan kepada bapak dan ibu mengenai kondisi pasien,” jawab sang dokter sambil berjalan menuju ruangannya. Tama, Nala dan sang ibunda menunggu kondisi Marcha diruang tunggu. Nala terus menerus menangis, takut akan kondisi Marcha yang kritis saat itu.

“Sebelumnya, saya minta maaf kepada bapak dan ibu bahwa sebenarnya anak bapak menderita penyakit jantung koroner,” jelas sang dokter.
“Apa? Jantung koroner? Kenapa bisa dok?” jawab sang ayah. Ibunda Marcha kaget dan seketika menangis ketika dokter menjelaskan penyakit yang diderita Marcha.
“Anak bapak sendiri yang meminta saya untuk merahasiakan penyakit ini kepada bapak dan ibu. Karena dia takut bapak dan ibu menangis dan khawatir akan kesehatan Marcha,” jawabnya tenang.
“Sudah seberapa parah penyakit jantung koroner Marcha?” tanya sang bunda menahan air matanya.
“Kondisinya sudah sangat parah. Saat ini ia sedang kritis. Saya mohon kepada bapak dan ibu untuk tenang dan mencoba menerima semua ini,” jelas sang dokter pelan. Orangtua Marcha sangat kaget dan shock ketika mendengar penjelasan dari sang dokter. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.
“Ini ada surat dari Marcha untuk bapak dan ibu,” katanya sambil memberikan amplop cokelat.
‘Pa, Ma, maafin Marcha ya. Marcha gak bermaksud untuk membuat mama sama papa kecewa, marah, sedih, kesal, tapi Marcha ngelakuin ini demi mama sama papa. Marcha tau kok mama sama papa sayang banget sama Marcha. Marcha juga sayaang banget sama mama dan papa, tapi ini terakhir kalinya Marcha menulis surat ini. Oh iya, ma, tolong kasih amplop warna pink sama Nala ya. Suratnya ada dilaci meja belajar aku dikamar, dan aku mau mendonorkan mataku untuknya. Tolong ya mama sama papa rahasiakan ini sama Nala, sampai ia selesai operasi pendonoran mata nanti. Ada juga surat untuk Aldo, amplop yang sama tapi warna merah. Tolong dikasih sama Aldo ya ma, pa. Jangan kasih tau sama Aldo dan Nala soal penyakit aku ini. Marcha sayang banget sama mama dan papa, semuanya Marcha juga sayang. Love, Marcha.’ tulisnya dalam amplop tersebut. Kedua orangtua Marcha kaget dan sedih membaca surat terakhir dari anak kesayangannya. Tak lama, suster penjaga ruang UGD masuk dan memberitahukan sang dokter bahwa kondisi Marcha semakin kritis. Kedua orangtua Marcha segera menuju ruang UGD dan menunggu diruang tunggu bersama Nala, Tama dan bu Rina. Ibunda Marcha terus menerus menangis dan berdoa agar anak kesayangannya diberikan kesembuhan. Setelah beberapa jam menunggu, sang dokter keluar dengan wajah yang murung.
“Bagi bapak dan ibu, serta semua yang ada disini. Saya mohon agar diikhlaskan kepergian Marcha selama-lamanya. Saya sudah melakukan tindakan intensif dan semampu saya, namun Tuhan berkehendak lain. Marcha, kini sudah tidak bersama dengan kita,” jelas sang dokter pelan. Suara tangis dan teriakan memanggil nama Marcha keluar dari mulut sang bunda serta Nala. Mereka mengikhlaskan kepergian Marcha untuk selama-lamanya, meski bagi Nala dan Tama susah untuk melupakan Marcha yang sudah mereka kenal sejak kecil itu.


Seminggu setelah kepergian Marcha, kini Nala sudah bisa melihat dan merasakan keindahan dunia. Ia mendapatkan donor mata dari sahabatnya sendiri, Marcha. Lalu, ia membaca surat dari Marcha yang diberikan oleh orangtua Marcha sehari setelah sahabatnya itu meninggal.

‘Hai Nala. Apa kabar? Semoga kamu baik-baik aja ya. Aku kangeeennn banget sama kamu, kamu main dong kesini. Oh iya, selamat ya. Sekarang akhirnya kamu udah bisa melihat lagi setelah mendapatkan pendonor mata yang cocok. Tapi sayangnya, aku gak ada disamping kamu saat operasi kemarin. Gimana operasinya? Lancar kan? Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya Nal. Seandainya kamu tau Nal, bahwa pendonor mata untuk kamu adalah aku. Aku pendonor pertama kamu, inget gak aku pernah janji sama kamu kalo aku mau cariin pendonor mata yang pas buat kamu? Itu aku orangnya Nal. Maaf, kalo aku bohongin kamu tentang semua ini. Tapi kalo aku bilang sama kamu, pasti kamu akan menolaknya. Kamu janji ya sama aku, jangan tolak permintaan aku ini. Aku begini karena aku sayang sama kamu Nal, kamu sahabat aku sejak kecil. Cuma kamu yang aku punya saat ini, maafin aku ya Nal udah gak jujur sama kamu. Pokoknya, kamu harus jadi orang yang pinter. Buat aku bangga punya sahabat seperti kamu. I love you, Nala!
Sincerely, your bestfriend.’ Nala seketika menitikkan air mata, terdiam dan menatap ke langit. Ia melihat ada sekilas wajah Marcha sedang tersenyum. “Aku akan buat kamu bangga Cha. Aku sayang sama kamu, Marcha, sahabatku sejak kecil,” katanya sambil tersenyum.







                                                  -Selesai-