6.26.2014
3.24.2014
My Future
I want to be an announcer for a national radio in Jakarta
And I will be a career woman and working in marketing accounting
And will create jobs for the unemployed and lower the crime rate in Indonesia
Make Indonesia as a tourist destination of foreign tourists
As well I will improve the quality of education in Indonesia and make the childrens can get to know the world of education and the surrounding
And I will be a career woman and working in marketing accounting
And will create jobs for the unemployed and lower the crime rate in Indonesia
Make Indonesia as a tourist destination of foreign tourists
As well I will improve the quality of education in Indonesia and make the childrens can get to know the world of education and the surrounding
2.20.2014
Persahabatan yang tak hilang
Pagi hari yang sangat cerah, Marcha bersiap-siap menuju sekolahnya yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Begitupun dengan sahabatnya, Nala. Setiap hari, mereka selalu berangkat bersama menuju sekolah, karena mereka satu kelas dan bersahabat sejak kecil. Nala adalah anak yang aktif, baik, dan ramah. Namun disaat ia duduk dibangku SMP, Nala mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kedua matanya menjadi buta. Marcha yang sangat sayang kepada sahabatnya itu berjanji akan mencarikan pendonor mata untuk Nala.
“Ma, aku berangkat sekolah ya,” kata
Marcha.
“Kamu bareng sama Nala ya? Hati-hati
dijalan ya sayang,” jawab wanita paruh baya itu sambil mencium kening anak
semata wayangnya. Akhirnya, ia pergi menuju rumah Nala dan berangkat bersama ke
sekolah. Sepanjang jalan, Marcha terus berpikir agar bisa mendapatkan pendonor
mata untuk Nala agar sahabatnya itu bisa melihat kembali. Sesampainya dirumah
Nala, ia melihat seorang cowok ganteng sedang berdiri didepan rumah Nala.
Marcha menghampiri cowok itu yang sedang duduk santai diteras rumah.
“Hai ka Tama. Lagi ngapain kak?”
tanyanya ramah.
“Eehh ada Marcha. Masuk sini Cha.
Mau jemput Nala ya?” jawab cowok itu.
“Iya nih kak. Nala ada didalam?”
jawab Marcha sambil duduk disamping Tama.
“Ada, bentar lagi juga keluar kok.
Nah nih dia orangnya,” kata Tama samil menengok kedalam rumahnya. Nala keluar
dari dalam ruamhnya sambil meraba-raba tembok. Tama langsung menolong sang adik
yang ingin berangkat kesekolah bersama Marcha.
“Kak, udah ada Marcha apa belum?”
tanyanya sambil memegang tangan Tama.
“Ini ada disebelah kamu, dia udah
datang daritadi,” jawab Tama sambil memberikan tangan Nala kepada Marcha.
“Udah siap Nal? Yuk berangkat,”
jawab Marcha memegang tangan Nala.
“Iya. Yuk berangkat sekarang aja
Cha, nanti takutnya telat,” jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya, mereka berdua
pergi bersama ke sekolah. Dengan penuh rasa sabar, Marcha terus memegang tangan
kanan Nala dan berjalan pelan mengikuti langkah kaki Nala. Tangan kiri Nala
memegang sebuah tongkat yang setia menemaninya sejak kelas 2 SMP hingga
sekarang. Sesampainya disekolah, mereka langsung masuk ke kelas dan duduk
bersama.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Marcha membantu Nala membereskan buku-buku dan alat tulis milik sahabatnya itu.
Mereka keluar sekolah bersama, Marcha selalu menggenggam tangan kanan Nala.
Setibanya dipintu gerbang sekolah, mereka ternyata dijemput oleh Tama, kakak
Nala.
“Cha, masih ada les lagi gak?” tanya
Tama.
“Enggak ada kok kak. Udah selesai,”
jawab Marcha tersenyum. Nala sangat hafal dengan suara sang kakak.
“Ada kak Tama ya Cha?” tanya Nala
penasaran.
“Iya, kakak ada disini. Mau jemput
kalian. Pulang yuk,” jawab Tama sambil meraih tangan Nala.
“Tumben kak Tama jemput kita.
Makasih banyak ya kak,” jawab Nala sambil berjalan menuju mobil Tama. Begitupun
juga Marcha, yang terus berada dibelakang Nala dan Tama. Mereka pun pulang
sekolah bersama Tama.
Sesampainya dirumah Nala, Marcha
pamit untuk langsung pulang kerumahnya.
“Kak, maaf ya aku gak bisa lama-lama
disini. Soalnya aku harus bantuin mama dirumah,” katanya mengawali
perbincangan.
“Gak mampir dulu gitu Cha, temenin
Nala dirumah kayak biasanya,” jawabnya.
“Iya nih Cha. Kamu kan biasanya suka
main dulu dirumahku, kok sekarang udah jarang banget sih main?” tambah Nala.
“Maaf banget ya Nal, besok aku main
deh dirumah kamu. Hari ini aku mau bantuin mama dirumah. Gapapa kan Nal?” jelas
Marcha.
“Yaudah deh kalo gitu. Kamu hati-hati
dijalan ya Cha. Janji loh besok kamu main kerumah aku,” jawab Nala sambil
tersenyum dan berharap.
“Iya aku janji besok main kerumah
kamu pulang sekolah. Bye Nala!” jawabnya sambil keluar dari mobil Tama. Tak
lama, Nala juga keluar dari mobil, dibantu oleh sang kakak.
Sejak pulang dari sekolah hingga
sampai dirumahnya, Marcha terus merasakan sesak nafas. Namun, ketika berada
didepan Nala, ia sengaja menyembunyikan rasa sakit didadanya. Marcha terus
memegangi dadanya yang sesak sambil minum obat yang diberikan oleh dokter
seminggu yang lalu. Lalu, ia menuju lemari pakaian dan membuka laci yang berada
ditengah-tengah lemarinya. Ia mengambil sebuah map berwarna merah dan
membukanya. ‘Tuhan, apakah umurku masih panjang? Penyakit ini sangat mengganggu
aktifitasku sehari-hari. Dadaku sakit, sangat sakit. Tuhan, berikanlah aku umur
panjang, agar aku bisa melihat sahabatku Nala tersenyum karena sudah
mendapatkan pendonor mata yang cocok,’ katanya dalam hati sambil meneteskan air
matanya.
“Chaa,
makan siang dulu yuk sayang. Udah ada papa nih disini, turun yuk nak,” sang
bunda memanggil Marcha dari ruang makan. Seketika ia langsung mengembalikan map
yang berisi hasil pemeriksaannya seminggu lalu didalam laci itu. Lalu, ia
mengusap air matanya dengan tisu dikamarnya dan segera menuju ruang makan.
“Kamu
abis nangis ya Cha?” tanya sang ayah.
“Enggak
kok pa, tadi lagi tiduran terus kena debu dari atap kamar aku,” jawab Marcha
tersenyum.
“Abis
makan, mama tetesin obat mata ya. Biar mata kamu gak infeksi nanti,” sambung
sang ibu. Marcha meengangguk tanda setuju. ‘Pa, ma, maafin Marcha. Marcha gak
bermaksud untuk bohongi mama sama papa. Marcha takut mama sama papa kaget dan
tahu tentang penyakit yang sekarang Marcha alami,’ katanya dalam hati sambil
memandangi wajah kedua orangtuanya. Setelah selesai makan, Marcha langsung naik
menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
Hari
mulai berganti sore. Dan malam pun tiba. Bel rumah Marcha berbunyi. Sang bunda
yang sedang berada diruang keluarga bersama sang suami berlari menuju pintu dan
kaget melihat ada seorang cowok tampan berdiri didepan pintu rumahnya.
“Eeehh
ada nak Aldo. Tumben datang kesini. Ada apa ya?” kata sang bunda menyapa.
“Marcha
ada gak tante?” jawab Aldo.
“Adak
kok, paling lagi ngerjain tugas. Sini masuk nak Aldo,” kata sang bunda sambil
membawa Aldo masuk keruang tamu. “Tunggu sebentar ya, tante panggilin Marcha
dulu diatas”. Sang bunda berjalan cepat menuju kamar anaknya.
Sang
bunda mengetuk pintu kamar Marcha dua kali. Tak lama, Marcha membuka pintu
kamarnya dan kaget ada sang bunda disana.
“Eehh
mama. Ada apa ma?” tanyanya.
“Dibawah
ada Aldo tuh sayang. Samperin gih, mungkin ada hal penting yang mau disampaikan
sama kamu,” jawab sang bunda sambil mengelus rambut Marcha.
“Ooohh
ada Aldo. Yaudah bentar ya ma, aku mau beresin kamar dulu. Nanti aku kebawah
temuin Aldo,” jawab Marcha tersenyum simpul. Sang bunda mengangguk dan turun
menuju ruang tamu. “Sebentar ya nak Aldo, Marchanya lagi beresin kamar, nanti
dia turun kok kesini,” kata sang bunda ramah. Aldo mengangguk sambil tersenyum
kepada ibunda Marcha. Tak lama, orang yang ditunggu-tunggu Aldo datang juga.
“Hai
Cha. Maaf ya ganggu kamu malam-malam, ada yang mau aku omongin,” katanya sambil
berdiri dan menyambut Marcha.
“Ada
apa Do? Ngomong aja,” jawabnya santai.
“Gini
Cha. Sebenernya, aku udah menyimpan rasa sama kamu sejak kelas 1 SMA. Sampe sekarang,
rasa itu masih ada. Jadi intinya, kamu mau gak jadi pacar aku?” kata Aldo.
Marcha kaget dan terdiam sejenak mendengar perkataan Aldo. Satu sisi, Marcha
sudah berjanji kepada kedua orangtuanya untuk tidak berpacaran dengan teman
sekolahnya hingga ia lulus. Namun disisi lain, Marcha juga sayang kepada Aldo,
teman semasa SDnya dulu.
“Bisa
kasih aku waktu sampai besok lusa? Aku harus berpikir dulu,” jawab Marcha
bingung.
“Aku
ngerti kok Cha sama perasaan kamu saat ini. Apapun keputusan kamu, akan aku terima
dengan ikhlas,” jawab Aldo pelan.
“Makasih
banyak ya Do atas pengertiannya,” jawab Marcha tersenyum.
“Kalo
gitu, aku pamit pulang ya Cha. Sampai bertemu besok disekolah,” jawabnya sambil
pergi. Marcha hanya tersenyum didepan pintu rumahnya sambil memperhatikan Aldo
hingga masuk kedalam mobilnya. ‘Bukan maksud aku untuk menolak kamu Do, tapi
waktu aku gak banyak. Kamu dan teman-teman lainnya gak tau bahwa aku punya
penyakit jantung koroner sejak aku kelas 3 SMP. Maafin aku ya Do,’ katanya
dalam hati sambil menutup pintunya.
Keesokan
harinya, Marcha kembali kesekolah bersama Nala. Sesampainya dirumah Nala, ia
berpesan kepada Tama, kakak Nala.
“Kak,
nanti kalo aku udah gak ada tolong jagain Nala ya kak. Aku takut kalo nanti aku
gak bisa nemenin dia berangkat sekolah lagi,” jelas Marcha sambil berbisik.
“Cha,
kamu ngomong apa sih? Kamu masih bisa bareng sama Nala, gak boleh ngomong
gitu,” jawabnya tegas.
“Ya
maaf deh kak, aku kan takut aja gitu. Nanti aku cariin pendonor mata yang cocok
untuk Nala. Biar dia bisa melihat dunia dan sekitarnya,” jawab Marcha lirih.
Tak lama, Nala keluar dan mendengar pembicaraan Marcha dengan Tama.
“Chaaa…kamu
gak boleh ngomong gitu. Aku gapapa kok begini, justru karena ada kamu hidup aku
jadi lengkap. Meskipun aku gak bisa melihat sekitar, tapi dengan adanya kamu
aku jadi bisa merasakan indahnya dunia,” katanya sambil berjalan menuju Marcha.
“Aku
janji Nal, aku akan cariin pendonor mata yang cocok buat kamu ya. Aku janji
buat kamu,” kata Marcha sambil memegang tangan Nala. Nala meneteskan air mata,
dan memeluk Marcha sangat erat. Tama yang melihat persahabatan Marcha dan Nala
terharu melihat kedekatan mereka.
“Udah
udah, kalian berangkat sekolah sana. Nanti telat lho,” kata Tama mencoba
menengah. Nala mengusap air matanya dan segera pergi ke sekolah bersama Marcha.
‘Nal, maafin aku. Aku bohong sama penyakit aku sama kamu, aku gak mau kamu
sedih dan terus mikirin kondisi aku saat ini. Maafin aku Nal, maafin aku,’ kata
Marcha dalam hati. Ia mencoba tersenyum walaupun ia sudah berbohong kepada
sahabatnya sendiri.
Sesampainya
disekolah, Marcha mengantarkan Nala ke kelas. Lalu, ia pamit kepada Nala yang
sedang duduk diam.
“Nal,
aku ke kamar mandi dulu ya sebentar. Kamu jangan kemana-mana,” katanya.
“Oohh
iya Cha,” jawabnya sambil mengangguk. Marcha segera berlari ke kamar mandi dan
mengunci pintu. Dadanya semakin terasa sakit, sangat sakit dibandingkan
kemarin. Marcha mengeluarkan obat yang sengaja ia bawa dari rumah dan
meminumnya. Beberapa saat setelah ia minum obat itu, bel tanda masuk sekolahpun
berbunyi. Marcha segera masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti
biasanya.
Sepulang
sekolah, ia pulang bersama Nala. Kali ini, ia menepati janjinya kemarin bahwa
akan main dirumah Nala hingga sore. Nala menagih janji Marcha kemarin.
“Cha,
hari ini kamu jadi main kan kerumahku?” tanya Nala.
“Iya
kok, aku jadi main kerumah kamu sekarang,” jawab Marcha sambil menyembunyikan
rasa sakit didadanya.
“Kamu
gapapa kan Cha? Kok suaranya agak beda? Kamu abis nangis ya?” kata Nala heran.
“Aku
gapapa kok Nal, Cuma dari semalam aku lagi flu. Jadi suaranya beda begini, maaf
ya Nal,” jawabnya sambil tersenyum kecil. Nala masih penasaran dengan apa yang
terjadi kepada sahabatnya itu. Sesampainya dirumah, mereka disambut oleh ibu
dan kakak Nala.
“Eeehh
kalian udah pulang. Yuk sini masuk, makan siang dulu. Ibu udah buatkan makanan
kesukaan Nala,” sambut sang bunda.
“Iya
tante, maaksih banyak. Jadi ngerepotin nih,” jawab Marcha tersipu malu.
“Gapapa
Cha, anggap aja ini rumah kamu sendiri ya,” sambung Tama.
“Ayo
masuk Cha, kita makan bareng-bareng,” ajak Nala sambil masuk kedalam rumahnya. Marcha
dan Tama pun ikut masuk kedalam rumah dan menuju ruang makan. Marcha tersenyum
kala melihat hidangan yang ada dimeja makan, ia teringat dikala sang ayah
berulang tahun sebulan yang lalu. ‘Besok dan selamanya aku gak akan bisa
menikmati hidangan ini lagi dirumah, ataupun dirumah Nala,’ katanya dalam hati.
“Duduk
sini Cha, disamping aku,” kata Nala.
“Waahh,
ini masakan yang aku makan terakhir kalinya. Keliatannya enak ya tante,” ujar
Marcha tanpa sadar. Tama, ibu dan Nala terdiam mendengar perkataan Marcha barusan.
Tama pun mencoba memeluk Marcha yang saat itu sedang bingung karena mereka
diam.
“Ada
apa nih? Kalian kok diam semuanya?” tanyanya heran.
“Cha,
maafin kesalahan kakak ya selama ini. Kalo kakak ada salah-salah kata, sering
ngeledek kamu, sering marahin kamu. Maafin ya Cha,” katanya sambil menahan
tangis. Nala pun mendekat ke arah Marcha dan Tama.
“Cha,
kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu masih bisa kok makan disini, bareng-bareng
sama kita,” kata Nala menangis. Marcha terdiam dan melihat sekeliling. Dadanya semakin
sakit, hingga akhirnya ia pingsan dipelukan Tama.
“Chaa…bangun
Cha. Marcha bangun Cha,” teriak Tama panik. Nala mencoba membangunkan Marcha
tapi tak berhasil. Akhirnya, mereka pun membawa Marcha kerumah sakit dan
menghubungi orangtua Marcha.
Sesampainya
dirumah sakit, Marcha segera dibawa keruang IGD dan mendapatkan perawatan
intensif. Tama berusaha tenang dan mencoba menghubungi orangtua Marcha.
‘Halo
tante’
‘Iya
halo. Ada apa ya nak Tama? Tumben telfon tante’
‘Ini…anu
tante. Mau ngabarin kalo……kalo Marcha itu…’
‘Ada
apa sama Marcha?’
‘Marcha
masuk rumah sakit tante’
‘Apaaaaaa…………?’
ibunda Marcha kaget dan shock. Sang suami pun kaget melihat istrinya duduk
terdiam sambil menangis disofa ruang keluarga. “Ma, ada apa ma? Mama kenapa
begini?” tanya sang suami. Ia melihat sambungan telfon dari Tama masih
tersambung. Ia mencoba bertanya kepada Tama.
‘Halo.
Ini Tama ya?’
‘Iya
om. Tante Devi gapapa om?’
‘Dia
kaget, masih shock. Ada apa sebenarnya?’
‘Marcha
om……dia masuk rumah sakit barusan’
‘Mar…Marcha
masuk rumah sakit? Baiklah, om sama tante segera kesana ya. Terimakasih atas
infonya nak Tama’. Kedua orangtua Marcha langsung menuju rumah sakit tempat
anak mereka dirawat. Tama, Nala dan ibunya menunggu diruang tunggu sambil
menenangkan Nala yang terus-terusan menangis karena khawatir dengan kondisi
sahabatnya. Tak lama, datanglah orangtua Marcha. Mereka terlihat berjalan
dengan langkah kaki yang cepat, menghampiri Nala, Tama serta ibunda mereka. Dengan
wajah yang lemas dan pucat, ibunda Marcha mencoba tenang dan tak henti-hentinya
mengucapkan doa agar sang anak kembali sembuh.
“Tante…”
kata Tama sambil menyambut orangtua Marcha.
“Gimana
kondisi Marcha Tam?” tanya tante Devi.
“Masih
ada didalam tante. Yang sabar ya tante, om,” jawab nya pelan. Tak lama,
keluarlah dokter yang menangani Marcha. “Apakah diantara kalian ada keluarga
pasien?” tanya sang dokter. “Kami orangtua Marcha dok,” jawab sang ayah. “Mari
ikut saya. Ada yang ingin saya bicarakan kepada bapak dan ibu mengenai kondisi
pasien,” jawab sang dokter sambil berjalan menuju ruangannya. Tama, Nala dan
sang ibunda menunggu kondisi Marcha diruang tunggu. Nala terus menerus
menangis, takut akan kondisi Marcha yang kritis saat itu.
“Sebelumnya,
saya minta maaf kepada bapak dan ibu bahwa sebenarnya anak bapak menderita
penyakit jantung koroner,” jelas sang dokter.
“Apa?
Jantung koroner? Kenapa bisa dok?” jawab sang ayah. Ibunda Marcha kaget dan
seketika menangis ketika dokter menjelaskan penyakit yang diderita Marcha.
“Anak
bapak sendiri yang meminta saya untuk merahasiakan penyakit ini kepada bapak
dan ibu. Karena dia takut bapak dan ibu menangis dan khawatir akan kesehatan
Marcha,” jawabnya tenang.
“Sudah
seberapa parah penyakit jantung koroner Marcha?” tanya sang bunda menahan air
matanya.
“Kondisinya
sudah sangat parah. Saat ini ia sedang kritis. Saya mohon kepada bapak dan ibu
untuk tenang dan mencoba menerima semua ini,” jelas sang dokter pelan. Orangtua
Marcha sangat kaget dan shock ketika mendengar penjelasan dari sang dokter. Tak
ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.
“Ini
ada surat dari Marcha untuk bapak dan ibu,” katanya sambil memberikan amplop
cokelat.
‘Pa, Ma, maafin Marcha ya.
Marcha gak bermaksud untuk membuat mama sama papa kecewa, marah, sedih, kesal,
tapi Marcha ngelakuin ini demi mama sama papa. Marcha tau kok mama sama papa
sayang banget sama Marcha. Marcha juga sayaang banget sama mama dan papa, tapi
ini terakhir kalinya Marcha menulis surat ini. Oh iya, ma, tolong kasih amplop
warna pink sama Nala ya. Suratnya ada dilaci meja belajar aku dikamar, dan aku
mau mendonorkan mataku untuknya. Tolong ya mama sama papa rahasiakan ini sama
Nala, sampai ia selesai operasi pendonoran mata nanti. Ada juga surat untuk Aldo,
amplop yang sama tapi warna merah. Tolong dikasih sama Aldo ya ma, pa. Jangan
kasih tau sama Aldo dan Nala soal penyakit aku ini. Marcha sayang banget sama
mama dan papa, semuanya Marcha juga sayang. Love, Marcha.’ tulisnya dalam amplop tersebut. Kedua orangtua
Marcha kaget dan sedih membaca surat terakhir dari anak kesayangannya. Tak lama,
suster penjaga ruang UGD masuk dan memberitahukan sang dokter bahwa kondisi
Marcha semakin kritis. Kedua orangtua Marcha segera menuju ruang UGD dan
menunggu diruang tunggu bersama Nala, Tama dan bu Rina. Ibunda Marcha terus
menerus menangis dan berdoa agar anak kesayangannya diberikan kesembuhan. Setelah
beberapa jam menunggu, sang dokter keluar dengan wajah yang murung.
“Bagi
bapak dan ibu, serta semua yang ada disini. Saya mohon agar diikhlaskan
kepergian Marcha selama-lamanya. Saya sudah melakukan tindakan intensif dan
semampu saya, namun Tuhan berkehendak lain. Marcha, kini sudah tidak bersama
dengan kita,” jelas sang dokter pelan. Suara tangis dan teriakan memanggil nama
Marcha keluar dari mulut sang bunda serta Nala. Mereka mengikhlaskan kepergian
Marcha untuk selama-lamanya, meski bagi Nala dan Tama susah untuk melupakan
Marcha yang sudah mereka kenal sejak kecil itu.
Seminggu
setelah kepergian Marcha, kini Nala sudah bisa melihat dan merasakan keindahan
dunia. Ia mendapatkan donor mata dari sahabatnya sendiri, Marcha. Lalu, ia
membaca surat dari Marcha yang diberikan oleh orangtua Marcha sehari setelah
sahabatnya itu meninggal.
‘Hai Nala. Apa kabar? Semoga kamu
baik-baik aja ya. Aku kangeeennn banget sama kamu, kamu main dong kesini. Oh iya,
selamat ya. Sekarang akhirnya kamu udah bisa melihat lagi setelah mendapatkan
pendonor mata yang cocok. Tapi sayangnya, aku gak ada disamping kamu saat
operasi kemarin. Gimana operasinya? Lancar kan? Semoga semuanya berjalan dengan
lancar ya Nal. Seandainya kamu tau Nal, bahwa pendonor mata untuk kamu adalah
aku. Aku pendonor pertama kamu, inget gak aku pernah janji sama kamu kalo aku
mau cariin pendonor mata yang pas buat kamu? Itu aku orangnya Nal. Maaf, kalo
aku bohongin kamu tentang semua ini. Tapi kalo aku bilang sama kamu, pasti kamu
akan menolaknya. Kamu janji ya sama aku, jangan tolak permintaan aku ini. Aku
begini karena aku sayang sama kamu Nal, kamu sahabat aku sejak kecil. Cuma kamu
yang aku punya saat ini, maafin aku ya Nal udah gak jujur sama kamu. Pokoknya,
kamu harus jadi orang yang pinter. Buat aku bangga punya sahabat seperti kamu. I
love you, Nala!
Sincerely, your bestfriend.’ Nala seketika menitikkan air mata, terdiam
dan menatap ke langit. Ia melihat ada sekilas wajah Marcha sedang tersenyum. “Aku
akan buat kamu bangga Cha. Aku sayang sama kamu, Marcha, sahabatku sejak kecil,”
katanya sambil tersenyum.
-Selesai-
1.29.2014
8 Cowok Terinspiratif
Halohaiii.....welcome back to my blog. Alhamdulillah masih dikasih waktu buat ngeblog disini. First time in 2014. Banyak yang mau gw kasih tau ke kalian semua tentang 8 cowok yang menjadi inspirasi gw dari tahun 2012 ampe sekarang. Mari disimak baik-baik, siapa tau mereka juga menjadi inspirasi kalian juga...
1. YOGI FINANDA
Cowok yang jago main basket kelahiran Jakarta, 22 Desember 1979 ini mengawali kariernya sebagai model. Dengan bermodalkan wajah yang tampan dan membuat banyak cewek tergila-gila, ia memberanikan diri terjun ke dunia akting dan berperan sebagai Ergi di film Eiffel I'm In Love (2008) bersama Shandy Aulia dan Samuel Rizal. Nah, setelah main di film itu, dia juga main di beberapa judul FTV di SCTV salah satunya Tajir-Tajir Jadi Pembantu (bersama Dinda Hauw). Dia orang pertama yg jadi inspirasi gw. He..he..he...
2. RENDY SEPTINO
Cowok kelahiran Jakarta, 22 September 1988 ini pernah bermain di FTV SCTV berjudul Gita Cinta di STM (bersama Rina Diana). Meskipun usianya lebih tua dari gw (tuaan juga kak Fin aka Yogi Finanda he..he..he..), dia berada di urutan ke2 setelah kak Fin. Pokoknya kalo liat nama Rendy Septino, gw harus selalu ada didepan tipi buat liat aktingnya dia deh hohoho....
3. FAUZAN NASRUL
Wedeeeehhhhh.....nih orang lagi heboh seheboh-hebohnya orang heboh di twitter....diomongiiiiiin mulu dari pagi ampe malem ampe pagi lagi. Jelaaaaassss, cowok kelahiran 03 September 1990 ini lagi nunggu film keduanya tayang di bioskop berjudul Cinta Pertamaku (bersama Vebby Paltwinta dan Aurelie Moeremans) tanggal 6 Februari mendatang. Cowok bernama lengkap Fauzan Nasrul Hendra Putra ini berperan sebagai Elang difilm keduanya setelah bermain difilm pertamanya yg berjudul Hattrick. Pacar Dea Annisa ini sangat senang bisa bermain film lagi setelah ia sibuk syuting FTV di SCTV. Salah satunya Tukang Ojek Naik Pangkat (bersama Siti Anizah). Nah, ni bocah ada di urutan ketiga setelah kak Fin dan kak Rendy. Uhuuuyyyy.......
4. ILHAM ADITAMA
Lo semua pasti udah tau kan siapa ni bocah yang selalu petakilan diatas panggung? Yap! Dialah ILHAM ADITAMA.....
Cowok bernama lengkap Ilham Cipta Aditama ini adalah vokalis grup vokal HiVi! yang beranggotakan Dea, Ezra dan Febri. Nah, nih orang kalo lagi manggung petakilan terus, sampe2 membuat para cewek2 (terutama gw) jatuh cinta sama keringetnye! What? Keringetnye? Dia ini ngga bisa diem kalo udah manggung, dimanapun dia berada selalu membawa baju ganti dan handuk kecil buat ngelap keringetnya. Sampe2 pacar Jessica Mila Agnesia ini selalu ngelempar handuk kecilnya ke para HiFriends (sebutan fans untuk HiVi!). Wedeeeeehhhhh nih orang jail banget, apalagi sama orang2 yg ada dideketnya. Pokoknya, Ilham ini kece badai halilintar deh kalo kata Syahrini!
5. JOJO SILALAHI (JOSIL)
Yoooeeehhh brooo......cowok yang punya lesung pipi kayak Afgan ini memang udah ditakdirkan ganteng maksimal!!! Eits, cowok kelahiran Surabaya, 7 Januari 1990 dan bernama lengkap Jonathan Alvian Maranatha Silalahi ini ternyata pinter akting loh...liatin aja, setiap ada FTV di SCTV (lagi) pasti selalu ada dia, meskipun dia bukan pemeran utamanya (backsound lagu Raisa - Pemeran Utama). Cowok yang biasa disapa Josil ini selalu mengumbar lesung pipi sebelah kirinya yg daleeeeemmmm banget (sumur kali ahh dalem) sama semua fansnya. Daaaannnn, dia itu ramaaaaaahhhhh banget sejak gw tau dia di beberapa judul FTV hohoho.....
6. EZRA MANDIRA
Widiiiiiiyyyyy........nih cowok ganteng pake banget! Fix, ganteng maksimaaaalllll........
Gitaris HiVi! kelahiran Jakarta, 29 September 1991 ini sangat menginspirasi gw loooohhh.....salah satunya dalam bidang pendidikan! Yap, dia ini sedang melanjutkan kuliah bidang Industrial Engineering di Swiss German University semester 6. Cowok yang tahun lalu pernah magang di Jerman selama 6 bulan ini merasa senang ketika sedang magang. Yaa, walaupun magang, anak pertama dari pasangan Dina Mariana Heuvelman dan Radian Ratulangi Sugandi ini katanya pengen kesana lagi hohoho (demen apa seneng Zra? Hahahaha....)
7. NINO 'RAN'
Mantan kekasih Pevita Cleo Eileen Pearce (Pevita Pearce) ini adalah salah satu personil grup vokal RAN. Cowok bertato kelahiran Jakarta, 21 November 1987 ini sangat menginspirasi gw sejak tahun 2008 ampe sekarang. Nino yang kini berpacaran dengan salah satu personil girlband Princess, Ana Octarina ini aslinya supeeeeerrrrr duper keren dan ramaaaaahhhh banget, apalagi sama fans setianya.....widiiiiihhhhh, mesti harus diabadikan kalo ketemu sama dia. Nah, cowok bernama lengkap Anindyo Baskoro ini lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan jago banget bikin lagu. Sampe2 dialbum RAN yang berjudul 'Hari Baru' ini hampir semua lagunya diaransemen dan diciptakan oleh dia. Bahkan, album pertama HiVi! yang bertajuk 'Say Hi! to HiVi! ini juga diciptakan oleh Nino. Waaaahhhh, salut deh sama nih cowok....
8. ADHYRA '5 ROMEO'
Gileeeeeehhhhh gantengnyaaaaa maksimaaaalllll.........mirip banget sama Dimas Anggara broooo..........
Tapi, cowok bernama lengkap Adhyra Yudhi Fajar Maulana ini salah satu personil grup vokal 5Romeo besutan om Yovie Widianto. Wedeeeehhhh, pertama kali ketemu sama nih orang sombong bangeeeettt....tapi, setelah ketemu berkali-kali dan ngobrol, aseliiiiiiikkkkkk dia manis, baik udah gitu ramaaaahhhh bangeeeeettttt......Masya Allah, sama deh kayak kak Fin he..he..he....
Selain senyumannya yang sangat manis, behelnya pun membuat gw tergila-gila sama dia maksimal......haduuuuuhhhh, beruntung banget deeeh yang jadi pacarnya Adhyra nanti.....udah baik, perhatian, ramah, engga sombong, cakep pula.
Nah, itu dia 8 cowok yang menjadi inspirasi gw sejak 2 tahun lalu.Semoga, mereka juga bisa menginspirasi kalian semuanya yaaaa....sekian dan terimagalau.
Ciaaaaoooooo..........
11.10.2013
Cinta Datang Terlambat
Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi halaman sekolah SMA Harapan. Semua siswa menunggu di aula karena hujan yang tak kunjung reda sambil memegangi gadgetnya masing-masing berharap mereka dijemput oleh supir/orangtua. Berbeda dengan Nadia, cewek kelas XII-IPA3 ini menunggu redanya hujan dengan bermain piano di kelas musik. Ya, dia sangat pintar dan mahir bermain piano. Banyak cowok yang suka dan jatuh cinta dengannya, namun Nadia tidak merespon mereka semua. Ketika Nadia sedang asyik bermain piano, datanglah seorang cowok ganteng dan tinggi seperti Marcel Chandrawinata masuk ke kelas musik.
"Aku mendengar kamu bermain piano sangat baik dan merdu. Hey gadis, siapa namamu?" tanya si cowok itu. Seketika Nadia menghentikan permainan pianonya dan berbalik badan melihat cowok itu.
"Makasih banyak atas pujiannya. Kamu siapa? Aku Nadia," jawabnya sambil berdiri dan melambaikan tangan.
"Kamu ternyata pianis hebat yang pernah aku temui. Kenalkan, namaku Bayu. Aku anak XII-IPA2. Kalo kamu?," jawab cowok itu. Entah apa yg dirasakan oleh Nadia, jantungnya berdebar kencang ketika menerima lambaian tangan Bayu. Memang sebelumnya Nadia tak pernah merasakan hal yg seperti ini.
"Oh iya. Aku kelas XII-IPA3. Senang ketemu sama kamu". Lalu, Bayu memberikan senyuman kepada Nadia. Nadia pun malu-malu mendapatkan senyuman dari Bayu. Bahkan, rona pipinya menjadi merah seketika. Lalu, Bayu mengajak ngobrol Nadia hingga hujan mulai reda.
"Hujannya udah reda, aku pulang dulu ya Bay," kata Nadia sambil pergi meninggalkan Bayu.
"Tunggu sebentar Nad," panggil Bayu memanggil Nadia. Lalu, Nadia pun berbalik badan dan menghampiri Bayu.
"Ada apa lagi ya?" Nadia bertanya-tanya.
"Aku boleh minta nomer hp kamu?"
"Boleh kok. 0812xxxxxxxx"
"Terimakasih ya Nad," jawab Bayu sambil tersenyum. Lalu, Nadia pun keluar kelas musik dan bergegas pulang.
Ketika dirumah, Nadia disibukkan dengan tugas sekolahnya, hingga Bayu menelepon dirinya tak ada jawaban. Akhirnya, Bayu pun mengirimkan pesan singkat ke handphone Nadia.
'Nad, kamu lagi apa? Maaf ya aku ganggu kamu lagi sibuk. Semoga besok kita bisa bertemu kembali.
Sincerely,
-Bayu'. Nadia baru sadar ketika ada pesan masuk ke handphone-nya. Lalu, ia membuka pesan tersebut dan kaget melihat bahwa pesan itu dari Bayu. Akhirnya, Nadia pun mencoba menghubungi Bayu namun handphone milik Bayu tidak aktif. Akhirnya, ia membalas pesan singkat yg dikirimkan sebelumnya oleh Bayu.
'Hei. Maafkan aku, aku lupa kamu menelefon aku daritadi namun aku tak mengangkatnya. Aku sibuk dengan tugas sekolah ini, rasanya ingin cepat selesai namun yang ada semakin banyak. Maaf jika aku menganggumu malam ini. Sampai bertemu besok, Bayu'. Tak lama, Bayu pun membalas pesan singkat nadia kembali.
'Terimakasih sudah membalas pesan singkatku ini. Aku berharap, semoga kita bisa bertemu besok pagi di sekolah. Sampai jumpa besok, Nad'
Keesokan harinya, Nadia pun bersiap untuk pergi ke sekolah. Baju seragam putih-abu-abu dan kemeja kotak-kotak siap membawanya untuk pergi ke sekolah. Supir yg mengantarkan Nadia sudah siap menunggunya di halaman parkir. Seketika Nadia masuk ke dalam mobil itu dan berangkat ke sekolah. Setiap harinya, Nadia tinggal bersama kakak dan dua pembantu yg tinggal di sana juga. Kala itu, kakak Nadia sudah berangkat ke kampus terlebih dahulu kemudian Nadia. Ketika sampai di kampus, Nadia turun dan berpesan kepada pak supir yg mengantarnya ke sekolah.
"Pak, nanti jemput saya jam 3 sore ya. Karena saya hari ini ada les sampai jam 2. Bisa kan pak?"
"Oh iya pasti bisa non. Nanti pasti saya jemput non di sekolah". Kemudian Nadia pergi masuk ke dalam sekolahnya yg megah dan besar. Di koridor kelas, Nadia bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
"Nadiaaaaa", teriak Andien dari jauh.
"Hey kalian. Lihat dong, aku bisa jalan biasa lagi loh," jawab Nadia antusias.
"Ya ampun Nad, kok bisa sih? Sejak kapan kamu bisa jalan kayak gini? Aku seneng deh liatnya Nad," jawab Tia sambil memeluk Nadia.
"Iya loh Nad, kita seneng banget kamu bisa jalan seperti biasa lagi sekarang," kata Jelita yang juga memeluk Nadia.
Sebelumnya, Nadia divonis oleh dokter mengalami kanker otak stadium 3. Namun, berkat bantuan kemotherapy dan doa dari para sahabatnya, akhirnya Nadia bisa berjalan seperti semula lagi. Suatu keajaiban yg dirasakan oleh Nadia ketika ia sakit parah. Masih ada teman dan sahabat yg selalu ada untuk menghiburnya dikala dia sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Ketika Nadia sedang berjalan di koridor kelas XII-IPA2, ia bertemu dengan Bayu yg ingin keluar dari kelasnya. Seketika 'braaakkkk!!!!' buku-buku yg dibawa oleh Bayu jatuh semua karena ia menabrak Nadia.
"Kalo jalan liat-liat dong. Punya mata gak sih?!" teriak Bayu sambil membereskan buku-buku yg berserakan di lantai.
"Iya aku minta maaf ya Bayu. Aku nggak sengaja nabrak kamu. Maaf ya," jawab Nadia pelan sambil membantu Bayu. Lalu, Bayu menepuk tangan Nadia seakan ia tak boleh membantu Bayu. Lalu, Bayu menoleh ke atas dan melihat Nadia ingin menangis.
"Ya ampun Nadia. Aku minta maaf sama kamu. Aku ngga tau kalo....." belum selesai Bayu bicara, Nadia berlari meninggalkan Bayu seorang diri. Tanpa disadari, ia pun bertemu dengan Rangga di depan pintu kelasnya. Rangga yg melihat Nadia berlari sambil menangis, berusaha untuk menenangkan Nadia yg duduk di taman sekolah.
"Nad, kamu kenapa? Kok nangis gini?" tanya Rangga.
"Aku gak apa-apa ko Ga. Aku baik-baik aja," jawab Nadia sambil mengusap air matanya. Lalu, Rangga memberikan saputangan yg ada di saku celananya dan memeluk Nadia.
"Udah ya, kamu nggak usah sedih begini. Kamu tenang aja ya, aku selalu ada disamping kamu kok Nad," kata Rangga sambil menenangkan Nadia. Bayu yg melihat Nadia sedang berduaan dengan Rangga pergi ke kelas dengan rasa kecewa karena ia tak bisa menenangkan Nadia dan meminta maaf kepadanya.
"Makasih ya Ga, kamu udah baik banget sama aku hari ini," jawab Nadia sambil mengusap air matanya dengan saputangan Rangga.
"Iya, sama-sama Nad. Kamu jangan sedih lagi ya, kalo kamu ada apa-apa kasih tau aku aja," kata Rangga was-was.
"Iya pasti kok Ga. Makasih banget ya kamu udah baik sama aku selama ini. Aku bingung buat balas kebaikan kamu seperti apa sama aku," jawab Nadia sambil tersenyum.
Sepulang sekolah, Nadia dijemput oleh supirnya untuk pulang kerumah. Namun disisi lain, ada Bayu yg menunggunya di depan koridor kelasnya. Nadia yg melihat Bayu langsung bergegas pergi menghindari Bayu.
"Nad, tunggu. Aku mau minta maaf sama kamu. Nadia," teriak Bayu sambil menghampiri Nadia. Tak lama, Nadia berhenti dan kemudian ia pingsan ditengah lapangan. Bayu yang melihat Nadia jatuh pingsan langsung berlari menghampiri Nadia.
"Nad. Kamu kenapa Nad? Nad bangun Nad. Nadia.... Nadia bangun, kamu harus bertahan Nad. Nadia!" teriak Bayu sambil membangunkan Nadia. Pak Dirman, supir pribadi Nadia lalu datang menghampiri Bayu dan kerumunan orang di tengah lapangan.
"Mas, mas. Non Nadia kita bawa saja kerumah sakit sekarang. Sebelum terlambat ssemuanya," kata pak Dirman.
"Oh iya pak. Hey tolongin dong bawa Nadia ke mobilnya dia cepet!" Bayu meminta tolong kepada teman-temannya yg ada di lapangan itu.
Sesampainya dirumah sakit, supir pribadi Nadia langsung menghubungi kakaknya yg sedang kuliah saat itu. Raut wajah Bayu semakin khawatir ketika dokter yg menangani Nadia tak kunjung keluar dari ruang IGD. Tak lama, datanglah Febri, kakak Nadia yg bergegas menghampiri pak Dirman.
"Pak, gimana keadaannya Nadia?" tanya Febri.
"Iya mas Febri. Non Nadia masih ada di dalam ruang IGD mas, dokter yg menangani non Nadia belum keluar juga," jelas pak Dirman. Febri melihat ada seorang cowok dudul di depan ruang IGD. Lalu, ia menghampiri Bayu yg sedang khawatir dengan Nadia.
"Maaf sebelumnya. Mas ini siapa ya?" tanya Febri.
"Saya Bayu, teman satu sekolah Nadia yg ada di dalam ruang IGD ini. Mas sendiri siapanya Nadia ya?" jawab Bayu sambil berdiri.
"Saya kakaknya Nadia. Kenalin saya Febri. Oh iya, terimakasih ya udah bawa adik saya kerumah sakit sama pak Dirman. Mungkin, kalau nggak ada kamu Nadia bisa meninggal," jawab Febri sambil melambaikan tangannya.
"Iya sama-sama kak. Nama saya Bayu kak. Kalo saya boleh tau, sebenarnya Nadia sakit apa ya?" tanya Bayu penasaran.
"Sebenarnya, sejak kelas 1 SMA dia divonis oleh dokter mengidap kanker otak stadium 1. Semakin hari, kanker yg ada di otak Nadia semakin membesar. Dan sekarang, kankernya sudah mencapai stadium 3. Ya kakak nggak mau kankernya semakin membesar dan menggerogoti tubuh mungilnya Nadia," kata Febri bercerita kepada Bayu di ruang tunggu. Tak lama, keluarlah dokter yg menangani Nadia.
"Dokter, bagaimana kondisi terakhir adik saya?" tanya Febri khawatir.
"Apakah Anda saudara pasien? Ikut saya sebentar," jawab dokter Frans.
"Iya dokter. Baiklah".
"Sebenarnya, kanker yg ada di otak Nadia sudah mencapai stadium 4. Dan ini sangat berbahaya. Efek kemo yg dijalankan Nadia sudah tak bisa melawan kanker ganas ini. Saya hanya berdoa kepada Tuhan semoga Nadia mendapatkan kesembuhan dan bisa beraktivitas kembali," jelas dokter Frans. Febri yg mendengar keterangan dokter Frans kaget dan shock mendengar bahwa Nadia semakin sulit untuk hidup. Lalu, Febri dengan wajah lemas dan shock menghampiri pak Dirman yg setia menunggu Nadia di depan ruang IGD.
"Pak, kankernya Nadia udah stadium 4 pak," kata Febri lesu.
"Masa sih mas? Ya ampun, kasihan sekali non Nadia. Padahal sebentar lagi dia udah lulus SMA loh mas," jawab pak Dirman kaget juga.
"Iya nih pak. Saya berdoa semoga Nadia cepat sembuh dan bisa sekolah lagi seperti biasa," kata Febri sambil duduk di kursi memikirkan kondisi Nadia.
Di dalam ruang IGD, Bayu menangis melihat kondisi Nadia yg semakin memburuk.
"Nad, aku nggak nyangka kalo kamu punya kanker otak. Cewek yg aku suka di sekolah yg selalu bermain piano disaat hujan turun, ternyata kondisinya seperti ini. Kamu cepet sembuh ya Nad, semoga kamu bisa main piano lagi di sekolah, di kelas musik. Aku seneng dengerin kamu main piano di sana," kata Bayu sambil memegangi tangan Nadia.
1 minggu sudah berlalu, kondisi Nadia mulai membaik. Febri dan pak Dirman yg setia menemani Nadia melihat kondisi terakhir Nadia yg sudah sadar dari koma-nya.
"Perkembangannya sangat cepat, besok Nadia sudah boleh pulang. Namun, jangan terlalu aktif di sekolah ya. Saya takut, Nadia terlalu lelah dan kondisinya semakin memburuk lagi," jelas dokter Frans.
"Iya terimakasih banyak dokter. Saya siap menjaga Nadia kapanpun dia berada," jawab Febri sambil tersenyum melihat Nadia.
"Namun, kamu jangan sedih ya Nad. Soalnya....."
"Ada apa dok?" tanya Nadia.
"Sel kanker yg ada di otak kamu sudah menyebar di tubuh kamu dan sekarang sudah menggerogoti kaki kamu," jelas dokter Frans.
"Maksudnya dok? Saya lumpuh gitu?" tanya Nadia yg menahan air matanya.
"Bisa dibilang begitu Nad," jawab dokter Frans sambil menenangkan Nadia. Seketika Nadia mencoba menggerakkan kakinya namun tak pernah bisa. Kakinya sudah kaku dan ia tidak bisa digerakkan kembali. Nadia menangis karena ia sudah tak bisa berjalan kembali. Sambil ditenangkan oleh Febri dan pak Dirman, Nadia mencoba tersenyum dikala kakinya sudah tak berfungsi kembali. Bayu dan Rangga yg ada di depan ruang inap Nadia sedih dan kaget mendengar penjelasan dokter Frans tadi. Seketika mereka menyayangkan bahwa Nadia tak bisa berjalan kembali seperti semula. Namun para sahabatnya mencoba menghibur Nadia dan membuatnya tersenyum kembali seperti dulu.
"Nad, kamu jangan sedih ya, Kamu masih ada kita kok yg selalu ada disamping kamu. Masih ada kak Febri, pak Dirman, Rangga sama Bayu temen baru kamu," kata Nina mencoba menenangkan Nadia.
"Oh iya, aku dari kemarin nggak ngeliat Bayu deh. Ada yg tau gak Bayu dimana?" tanya Nadia.
"Aku ada disini," jawab Bayu sambil teriak. Dan..... 'Tadaaaaaa!!!!' Bayu berubah menjadi badut Mickey Mouse dan membuat Nadia tertawa lepas.
"Ya ampun Bayu. Kamu tuh aneh loh pakai kostum seperti ini," kata Nadia sambil memegang tangan Bayu yg besar.
"Iya dong. Aku spesial pakai baju Mickey Mouse supaya bisa liat senyum manis kamu," jawab Bayu sambil merayu Nadia.
"Heh Bay, lo kan temen barunya Nadia udah sok gombal aja," kata Dina sambil menyenggol tubuh Bayu.
"Gapapa dong, kan calon pacar sendiri," jawab Bayu sambil tersenyum ke arah Nadia. Nadia senang melihat tingkah laku para sahabat dan temannya itu yg mencoba menghibur dirinya disaat sakit kanker yg terus menggerogoti tubuhnya.
Keesokan harinya, Nadia kembali pulang kerumah. Dijemput oleh pak Dirman di depan lobi Rumah Sakit Pelita, Nadia dibopoh oleh Febri dari kursi roda yg membawanya dari kamar inap. Sembari memegang tangan Febri, Nadia berucap," Kak, nanti kalau aku udah meninggal, kak Febri jangan sedih ya. Kan masih ada pak Dirman sama ibu yg nemenin kak Febri. Meskipun ibu jarang ada dirumah karena sibuk kerja, tapi sebenarnya ibu sayang sama kita kak". Seketika Febri terdiam, juga pak Dirman yg ada di bangku supir. "Kenapa kamu bilang seperti itu Nad? Kamu pasti sembuh kok, harus. Kakak mau melihat kamu lulus dan di wisuda oleh sekolah. Kamu harus berjuang melawan kanker kamu ya sayang," jawab Febri sambil mencium kening Nadia di dalam mobil.
Pak Dirman hanya terdiam mendengar pernyataan Nadia saat itu. Ia tak bisa bicara apapun selain mendoakan yg terbaik untuk Nadia, majikan kesayangannya itu. Meski bertubuh mungil, Nadia sangat baik terhadap orang-orang yg ada disekitarnya. Oleh karena itu, pak Dirman dan dua pembantu dirumahnya sangat sayang kepada Nadia hingga saat terakhir Nadia di rumah sakit.
Beberapa hari kemudian, Febri melihat Nadia sudah jatuh dari kursi roda dan pingsan. Sontak Febri langsung memanggil pak Dirman yg ada di halaman belakang rumahnya.
"Pak Dirman, paaakk... Tolong pak. Nadia pingsan lagi Pak," teriak Febri sekeras-kerasnya hingga mbak Inah menghampiri Febri di kamar Nadia.
"Ya ampun non Nadia. Mas Febri, non Nadia kenapa?" tanya mbak Inah.
"Mbak, tolong panggilin pak Dirman. Kita bawa Nadia ke rumah sakit sekarang mbak. Cepetan," teriak Febri panik. Lalu, pak Dirman dan mbak Inah membopong Nadia masuk ke dalam mobil dan membawanya segera kerumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, Nadia langsung dibawa ke ruamg ICU untuk menjalani perawatan intensif. Sampai pada akhirnya, sahabat dan teman-teman Nadia datang kerumah sakit untuk melihat kondisi Nadia.
"Kak Febri, Nadia pingsan lagi?" tanya Tia.
"Iya Ti, tadi pagi aku liat Nadia udah ada di lantai kamarnya. Padahal sebelumnya dia minta dibawain bubur kesukaannya. Pas aku ke kamar, dia udah jatuh di bawah dan pingsan," jawab Febri sambil menangis khawatir dengan kondisi Nadia.
"Iya kak. Yang sabar aja ya, sekarang kita berdoa untuk kesembuhan Nadia. Semoga Tuhan memberikan yg terbaik untuk Nadia," jawab Tia dan diamini oleh semua teman-temannya. Bayu yg datang terlambat sambil membawa boneka kesayangan Nadia yg ada di kamarnya.
"Ini kak, udah aku bawain boneka kesayangannya Nadia. Semoga Nadia cepet sadar dan bisa meluk boneka ini lagi ya," kata Bayu sambil memberikan boneka itu kepada Febri. Sambil berdiri, Febri terus memeluk boneka kecil milik Nadia hingga dokter Frans yg menangani Nadia keluar dari ruang ICU.
"Dokter gimana keadaannya Nadia sekarang?" tanya serentak.
"Nadia mengalami koma. Kankernya sudah semakin ganas dan mulai menggerogoti seluruh tubuhnya," kata dokter Frans. Seketika, teman-teman Nadia yg menunggu di ruang tunggu ICU menangis mendengar kondisi Nadia yg semakin parah karena kanker otaknya itu. Febri dan pak Dirman masuk ke ruang ICU untuk melihat keadaan Nadia. Ibu Nadia dan Febri yg baru saja kembali dari Medan langsung masuk ke ruang ICU untuk melihat keadaan sang anak.
"Nadia..... Kamu jangan tinggalin mama sayang. Mama sayang sama kamu Nad. Jangan pergi ya Nad," kata sang ibu yg menangis di samping Febri.
"Maaf nih mas, nyonya. Lebih baik kita berdoa saja semoga non Nadia cepet sembuh," kata pak Dirman yg menenangkan ibu dan Febri. Lalu, ibu dan pak Dirman keluar sementara Febri masih disamping Nadia.
"Nad, kakak sayang banget sama kamu. Kakak merasa kehilangan kalo kamu pergi tinggalin kakak, mama sama pak Dirman. Kita semua sayang sama kamu, di luar sana ada teman-teman kamu yg setia berdoa dan menunggu kamu untuk segera sadar. Nad, kamu bisa denger kata-kata kakak kan?" kata Febri sambil berbisik di telinga kiri Nadia. Lalu, tangan mungil Nadia bergerak kecil tanda bahwa Nadia segera sadar. Namun, nafasnya berbeda dari biasanya. Akhirnya, Febri memanggil dokter untuk memeriksa Nadia. Febri keluar dengan wajah khawatir.
Seluruh orang yg ada di depan ruang ICU harap-harap cemas menunggu dokter Frans keluar dari ruang ICU. Mereka berdoa dan berharap akan ada keajaiban datang kepada Nadia yg sedang koma. Kemudian, pak Dirman menangis dan berdoa sebanyak-banyaknya untuk kesembuhan Nadia. Namun, apalah daya. Dokter Frans sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong nyawa Nadia. Kenyataannya,"Maafkan saya bu. Kehendak Tuhan lebih besar daripada kemampuan saya sendiri. Saya berusaha semaksimal mungkin namun, saya tidak bisa menolong Nadia untuk sembuh dari kankernya. Saya mohon untuk diikhlaskan kepergian Nadia," jelas dokter Frans yg segera pergi dari kerumunan teman-teman serta sahabat Nadia. Sontak saja mereka menangis sekeras-kerasnya menyayangkan kepergian Nadia untuk selama-lamanya. Febri, Bayu dan Rangga masuk ke ruang ICU untuk melihat keadaan Nadia. Bayu yg selama ini dikenal pendiam, menangis di hadapan Nadia. Ia menyayangkan, dirinya belum bisa menyatakan cintanya kepada Nadia. Karena sejak ia bertemu dengan Nadia kelas 1 SMA, ia sudah menyukai Nadia.
Kini, sudah tak ada lagu suara merdu dari piano yg ada di kelas musik. Tak ada lagi suara tertawa lepas yg ada di kantin, maupun kelas XII-IPA3. Dan ketika turun hujan, para siswa tidak bisa mendengar lagi Nadia bermain piano dengan santai dan merdu. Para sahabatnya pun masih terlihat sedih karena sudah tidak ada lagi canda tawa bersama Nadia.
-Selesai-
11.07.2013
Ketika ada sebuah pertemuan, pasti ada perpisahan. Jika kita bertemu secara baik-baik, pasti berpisah juga baik-baik. Begitu juga dengan persahabatan. Ada suka maupun duka yg selalu mengikuti kita dimanapun dan kapanpun. Jaga selalu hubungan baik dengan sahabat, dan tidak ada kata "mantan sahabat". Hanya ada mantan istri, mantan suami dan mantan kekasih. Hanya kamu yg bisa menjaga perasaan sahabatmu sendiri, bukan orang lain.
11.03.2013
Allah itu baik. Dia selalu ngasih masalah sama manusia tapi ada jalan keluarnya. Dan Allah itu adil. Orang kaya punya banyak duit, tapi ngga bisa makan enak. Mau makan ini dilarang, itu dilarang. Masih mending orang sederhana tapi bahagia. Bisa makan apa aja sesuka hati, tanpa perlu takut sakit atau apa. Tapi Allah juga ngetes keimanan manusia, dia bisa apa ngga ngejalanin semuanya walaupun ada yg mereka inginkan. -Mama
Langganan:
Postingan (Atom)







